IPB Training Latih Ratusan Petani Sawit Jambi Tingkatkan Produktivitas dari Budidaya hingga Panen

Foto bersama dengan para petani peserta training.

Jambi, Kilasjambi.com- Seratusan petani kelapa sawit dari sejumlah kabupaten di Provinsi Jambi mengikuti pelatihan budidaya serta panen dan pascapanen kelapa sawit. Pelatihan tersebut digelar pada 7–12 Oktober 2026 di Hotel Aston Kota Jambi. Pelatihan ini digelar sebagai bagian dari program pengembangan sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit tahun 2026.

Kegiatan yang berlangsung dalam empat angkatan itu merupakan kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan IPB Training. Sebanyak 204 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Mereka berasal dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebanyak 86 orang, Tebo 60 orang, Sarolangun 29 orang dan Batanghari 29 orang.

Ketua Tim Trainer IPB Training Prof. Dr. Ir. Hariyadi, M.S mengatakan, pengetahuan mengenai budidaya hingga panen menjadi bagian penting yang harus dikuasai petani untuk meningkatkan produktivitas kebun. Menurut dia, budidaya kelapa sawit harus dipahami sejak awal, mulai dari pemilihan lahan bibit, penanaman, hingga pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM).

“Budidaya itu dari mulai awal memilih lahan, memilih bibit, kemudian bagaimana menanam dan memelihara, baik tanaman belum menghasilkan sampai tanaman sudah menghasilkan,” kata Prof Hariyadi usai membuka pelatihan pada Rabu (7/10/2026).

Selain budidaya, menurut Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pertanian Berkelanjutan dan Pakar Agronomi di IPB University, teknik panen juga menentukan hasil yang diperoleh petani. Kesalahan dalam menentukan waktu maupun cara panen dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas produksi.

“Bagaimana cara pemanenan yang baik akan menentukan hasil. Jadi budidaya dan panen itu saling melengkapi,” ujarnya.

Ia menyebut masih terdapat sejumlah tantangan mendasar dalam pengembangan perkebunan sawit rakyat di Jambi. Salah satunya penggunaan bibit yang belum seluruhnya menggunakan bibit unggul.
Persoalan lainnya adalah kepemilikan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) yang masih rendah di kalangan petani.

Menurutnya, kelapa sawit kini menjadi salah satu tanaman yang diandalkan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Sektor kelapa sawit juga menjadi andalan bagi Provinsi Jambi dan menyumbang pendapatan yang cukup besar. Di Jambi, kondisi ini turut mendorong sebagian petani melakukan konversi dari tanaman karet ke kelapa sawit.

Karena itu, pembinaan dan peningkatan kapasitas petani dinilai perlu terus dilakukan agar perubahan tersebut diikuti dengan penerapan tata kelola perkebunan yang baik.

“Sebagian besar petani belum punya STDB. Surat ini semacam tanda bahwa kebun itu terdaftar, misalnya berapa luasannya dan lokasinya di mana. Itu nanti menjadi salah satu syarat untuk bisa ISPO,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pelatihan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Apung Ismane mengatakan pelatihan tersebut diarahkan untuk membentuk SDM pertanian yang semakin produktif, mandiri dan profesional.

Menurutnya, peningkatan produktivitas, kompetensi dan kemandirian SDM pertanian merupakan bagian penting dalam pengembangan sektor pertanian.

Ia meminta peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan, terutama dalam praktik budidaya kelapa sawit. Program pengembangan SDM petani kelapa sawit tahun 2026, kata dia, juga diarahkan agar pekebun mampu menerapkan praktik perkebunan yang produktif, efisien dan berkelanjutan.

“Budidaya kelapa sawit harus semakin produktif dan agresif. Seluruh peserta kami harapkan menerapkan teknis budidaya yang tepat, dan bisa ditularkan kepada petani lain di lingkungan mereka,” katanya.

Ketua Tim Kerja Pemberdayaan dan Peningkatan Kapasitas/Kapabilitas Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Direktorat Jenderal Perkebunan, Tulus Tri Margono mengatakan peningkatan produktivitas sawit rakyat masih menjadi tantangan. Menurut dia, produksi sawit rakyat masih relatif rendah. Padahal, potensi produktivitas masih dapat ditingkatkan apabila kebun dikelola dengan teknik yang tepat.

Untuk itu, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkebunan bersama BPDP menjalankan sejumlah program, antara lain peremajaan kelapa sawit serta peningkatan sarana dan prasarana perkebunan. Program tersebut mencakup fasilitasi penyediaan pupuk, pestisida, mesin pertanian dan berbagai sarana pendukung lainnya.

Penyerahan simbolis perlengkapan training.

Namun, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya melalui penyediaan sarana dan prasarana. Peningkatan kapasitas SDM perkebunan juga menjadi bagian penting.

“Terutama mulai dari pekebun, keluarga pekebun, karyawan, pendamping, penyuluh dan semuanya,” katanya.

Peningkatan kapasitas tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan, termasuk pelatihan dan program beasiswa. Tulus mengatakan, masih rendahnya penerapan teknik budidaya serta penanganan pascapanen yang belum tepat dapat menyebabkan kehilangan hasil dan berujung pada penurunan pendapatan petani.

Karena itu, ia meminta peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan mengikuti pelatihan dan meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada petani lain di daerah masing-masing. “Jangan disia-siakan kesempatan ini. Nanti bisa ditularkan kepada petani-petani lain di lingkungan Anda semua,” katanya.

Melalui pelatihan tersebut, peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi diterapkan langsung di kebun. Dengan begitu, produktivitas sawit rakyat di Jambi diharapkan meningkat sekaligus mendorong praktik perkebunan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts