Momentum Puasa dan Semangat Literasi

Herma Yulis

Oleh: Herma Yulis*

SETIAP tahun, Ramadan adalah bulan yang selalu ditunggu-tunggu dengan penuh kegembiraan oleh jutaan umat muslim di seluruh dunia. Ibadah puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi setiap muslim yang sudah masuk dalam kategori wajib berpuasa.

Ada pun landasan syariat tentang kewajiban berpuasa ini merujuk pada sejumlah dalil, baik dari Al-Quran, hadits, maupun ijma’ ulama. Dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Seperti yang kita ketahui, selama bulan Ramadan, umat muslim berlomba-lomba mengisinya dengan memperbanyak ibadah untuk meminta ampunan dan mengharap rahmat dari Allah SWT. Tidak hanya sebatas melakukan ibadah puasa, tetapi sepanjang siang dan malam hari mereka juga antusias dan bersemangat membaca Al-Quran atau tadarus Al-Quran. Selama bulan Ramadan, intensitas membaca Al-Quran pun meningkat drastis jika dibandingkan dengan bulan-bulan di luar Ramadan. Kebiasaan ini tentunya sangat positif dan bagus.

Namun, selain memperbanyak aktivitas tadarus Al-Quran, alangkah lebih baiknya kalau diimbangi pula dengan tadarus buku-buku sesuai minat dan kebutuhan. Baik itu bacaan bertema agama, sosial, politik, sastra, dan tema-tema keilmuan lainnya. Jika umat muslim dapat melakukan ini, maka di akhir bulan Ramadan nanti mereka tidak hanya mendapatkan ketaqwaan saja, tetapi tanpa disadari sebenarnya juga telah meng-upgrade kemampuan dan skill mereka melalui semangat literasi yang dibangun selama sebulan penuh. Ini pun tentunya akan dicatat sebagai ibadah juga di sisi Allah SWT, karena setiap melakukan sesuatu yang baik di bulan Ramadan akan dihitung sebagai amal ibadah. Bahkan, tidurnya orang yang sedang berpuasa pun dicatat sebagai ibadah.

Islam Adalah Agama Literasi

Jika kita bercermin pada sejarah, maka Islam adalah agama yang sangat mengistimewakan kegiatan literasi. Sejak awal, Islam telah memandang membaca sebagai aktivitas yang sangat penting. Dan, memiliki kebiasaan membaca yang baik akan memberikan banyak manfaat dalam rangka meningkatkan kualitas diri dan keilmuan di setiap bidang yang ditekuni.

Dengan menjaga budaya baca, maka seseorang akan terus bertambah pengetahuannya, dan akan semakin baik kualitas diri dan keilmuannya. Selanjutnya, dengan memiliki kemampuan dan keilmuan yang mumpuni seorang muslim akan mampu bersaing dalam urusan duniawinya, maupun dalam urusan ukhrawi dengan menyebarkan dakwah Islam yang damai dan toleran.

Menumbuh-kembangkan semangat literasi di kalangan umat muslim selaras pula dengan wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW atas perantara Malaikat Jibril. Allah SWT menurunkan wahyu pertama saat nabi sedang berada di Gua Hira pada 17 Ramadan, sekitar tahun 610 Masehi, atau 13 tahun sebelum nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Allah SWT menurunkan wahyu pertama berupa Surat Al-Alaq ayat 1-5 yang diawali dengan kata perintah “iqra (bacalah!)”.

Selaras dengan perintah wahyu pertama tersebut, maka semangat membaca Al-Quran yang rutin dilakukan umat muslim selama bulan Ramadan, tentu akan semakin bermakna dan bernilai lebih jika diperluas pula dengan membaca buku-buku lain untuk memperkaya wawasan. Apalagi jika kebiasaan baik seperti ini tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadan saja, tetapi diteruskan menjadi kebiasaan positif di luar bulan itu.

Dengan terjaganya kebiasan membaca yang dimulai dengan semangat tadarus Al-Quran selama Ramadan, dampaknya tidak sekadar dapat meningkatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat membantu meningkatkan kemampuan kognitif, keterampilan berpikir kritis, serta kemampuan berbicara seseorang.

Peran Pemuka Agama dan Masjid

Dalam rangka menumbuh-kembangkan semangat literasi di kalangan umat muslim, para pemuka agama juga dituntut untuk memberikan dorongan dan dukungan kepada umat agar dapat membangun tradisi membaca yang baik. Selain mengharapkan peran pemuka agama dalam menumbuhkan semangat literasi bagi umat, maka masjid sebagai kawah candradimuka bagi umat muslim, sebaiknya juga mulai menyediakan sumber-sumber bacaan yang memadai. Misalnya dengan membangun perpustakaan yang dilengkapi dengan bermacam koleksi tema bacaan untuk membantu mengembangkan wawasan dan minat baca umat.

Selama ini, jika kita perhatikan koleksi milik perpustakaan di masjid-masjid masih sangat minim. Bahkan, kebanyakan bahan bacaan yang ditemui hanya berupa kitab suci Al-Quran serta buku Yasin dan Tahlil saja. Tidak ada bahan bacaan lain. Ini barangkali bisa menjadi masukan untuk pengurus masjid agar ke depan bisa memiliki perpustakaan dengan aneka koleksi bahan bacaan yang beragam. Dengan demikian, harapannya masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah saja, namun juga mengambil peran penting dalam meningkatkan semangat literasi bagi umat.

Akhirul kalam, marilah kita jadikan puasa Ramadan tahun ini sebagai momentum untuk mulai membenahi diri dan meningkatkan kebiasaan membaca Al-Quran serta membaca buku-buku lainnya. Dan, semangat membaca yang berhasil tumbuh selama Ramadan ini harus diteruskan menjadi kebiasaan membaca sehari-hari di luar bulan Ramadan. Jika hal ini dapat diterapkan, maka semangat literasi umat muslim pun akan tumbuh dengan baik, dan akan berdampak pada terbentuknya masyarakat muslim yang lebih berpengetahuan dan terdidik. Wallahu a’lam bishawab.

*Herma Yulis, Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tinggal di Batanghari

Tulisannya berupa cerpen, artikel, dan resensi buku pernah dimuat di koran Kompas, Koran Tempo, Nova, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia (SINDO), Jurnal Nasional (Jurnas), Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Majalah Mata Baca, Majalah Medium, Jambi Independent, Minggu Pagi, Jurnal Seloko, Kilasjambi.com, Scientific Journal, dan Geotimes. Tahun 2016, bersama Puteri Soraya Mansur menerbitkan buku kumpulan cerpen Among-Among

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts