KILAS JAMBI – Civitas Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi terus menunjukkan komitmennya sebagai pionir dalam gerakan green campus. Kali ini, gerakan itu dilakukan dalam pelantikan pengurus Senat Mahasiswa (SEMA) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah masa bakti 2025-2026. Kamis, 24 Juli 2025.
Bertempat di Gedung Wing B Amplipayer, prosesi pelantikan dihadiri langsung Dekan Fakultas Dakwah Prof Ahmad Syukri dan Wakil Dekan III Dr M.J Habe. Turut juga hadir ketua SEMA dan DEMA di lingkungan UIN STS Jambi.
Pelantikan SEMA dan DEMA Fakultas Dakwah diawali dengan pembacaan surat keputusan dekan, sebanyak 17 orang pengurus SEMA dan 25 orang pengurus DEMA dilantik.
Muhammad Rofi’i menahkodai SEMA Fakultas Dakwah, dan Abel Gaesa Sandya Funggawa menahkodai DEMA Fakultas. M.J Habe selaku Dekan III memimpin pelantikan serta membacakan sumpah dan janji yang di kuti para pengurus SEMA dan DEMA.

Baik Ketua SEMA maupun DEMA sepakat untuk bekerja dengan semangat kolaboratif dan mengedepankan nilai-nilai dan asas solidaritas. Mereka juga akan mendukung program Fakultas Dakwah yang konsen untuk memelihara lingkungan, eviromental care yang salah satunya adalah mengurangi sampah dengan tidak menggunakan air gelas dan botol plastik sekali pakai.
Sebagai bentuk aksi nyata, panitia dan pengurus yang dilantik tidak menyediakan minuman mineral, tapi mereka membawa sendiri air minum dengan menggunakan tumbler.

Dekan Fakultas Dakwah dalam sambutannya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh pengurus SEMA– DEMA tersebut, “Dalam satu perioderisasi harus membuat karya monumental yang bisa ditiru dan tauladani oleh generasi berikutnya, intinya pemimpin harus punya visi,” kata Prof Ahmad Syukri.
Usai pelantikan segenap pengurus SEMA dan DEMA langsung turun ke lapangan untuk mengadakan sapu bersih, memungut sampah platik yang bertebaran di sekitar gedung kuliah dan dekanat.
Abel Ketua DEMA Fakultas Dakwah mengharapkan para segenap warga kampus senantiasa tidak membuang sampah di sembarang tempat.
“Ayo kita gunakan tumbler dan katakan tidak pada plastik sekali pakai, di mana perubahan besar dimulai dari perbuatan kecil yang dilakukan secara konsisten,” kata Abel.