Connect with us

Jambi

Di Tengah Ancaman Krisis Pangan, Petani Sawah Dilanda Kekeringan

Published

on

Seorang petani di Pulau Temiang membajak sawah dengan traktor, foto: riki/kilasjambi.com

KILAS JAMBI – Memasuki musim kemarau, petani sawah terutama yang mengelola sawah tadah hujan mulai dilanda kekeringan, penderitaan makin dirasakan petani sebab gerak mereka sebelumnya juga terbatas karena pandemi Covid-19.

Kondisi inilah yang dirasakan petani di Kelurahan Pulau Temiang, Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo, yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tuah Sepakat.

“Untuk menghadapi kemarau ini kami hanya memiliki satu titik sumur bor, itupun sumur perairan dangkal,” kata Damhuri, Ketua Gapoktan Tuah Sepakat, Kamis (02/07).

Satu sumur bor itu, menurut Damhuri, tentu tidak akan bisa untuk mengairi 80 hektar sawah produktif yang dikelola Gapoktan Tuah Sepakat. Satu sumur bor hanya bisa mensuplai air untuk empat sampai lima hektar lahan saja.

“Sebenarnya kami siap tanam tiga kali setahun, namun kendala dilanda kekeringan,” kata Damhuri.

Dengan kondisi saat ini mereka maksimal hanya bisa melakukan dua kali tanam dalam setahun, padahal potensi panen padi sawah yang dikelola lima kelompok di Gapoktan Tuah Sepakat cukup besar untuk setiap hektarnya.

“Perhektar kami bisa panen 7,8 ton dengan menggunakan bibit Impara 3,” kata Damhuri yang membawahi sekitar 97 orang anggota.

Damhuri mengatakan, ada solusi lain agar 80 hektar sawah yang mereka garap bisa optimal dialiri air, Yaitu, dengan membangun irigasi menggunakan pipa dan mesin diesel yang sumber airnya berasal dari Sungai Batanghari.

Namun, untuk membangun jaringan pipa tersebut membutuhkan biaya yang besar, dengan estimasi biaya mencapai puluhan juta rupiah. Sedikitnya, mereka membutuhkan 100 batang pipa yang harganya mencapai Rp300 ribu perbatang.

“Itu belum lagi mesin diesel untuk memompa air dari Sungai Batanghari yang berjarak sekitar 200 meter dari lahan kami,” kata Damhuri.

“Untuk energi penggerak diesel kami bisa memanfaatkan tenaga surya, seperti yang kami lihat di Youtube,” tambah Damhuri.

Ia pun secara lisan sudah menyampaikan rencana pengairan sawah menggunakan jalur pipa tersebut ke pihak Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Ketahanan Pangan (DTPHKP) Kabupaten Tebo.

“Tapi mengajukan proposal belum,” kata Damhuri.

Seorang ibu-ibu melintasi hamparan sawah yang mengering di Pulau Temiang, Tebo Ulu, foto: Riki/kilasjambi.com

Damhuri sangat berharap usulan itu nantinya bisa direalisasikan Pemerintah Kabupaten Tebo melalui DTPHKP, karena hasil panen padi begitu menunjang perekonomian anggotanya.

“Kalau panen, padi yang sudah menjadi beras bisa kami jual Rp10 ribu perkilogram, sedangkan gabah Rp7 ribu perkilogram,” kata Damhuri.

Menjawab keinginan petani, Kepala DTPHKP Kabupaten Tebo, Muhammad Ziadi mengatakan dinas siap membantu dan bertanggung jawab penuh, pihaknya juga siap mendampingi petani untuk mengantisipasi sawah tadah hujan dilanda kekeringan.

“Jika kekurangan mesin air, akan dipinjamkan dari kelompok tani lain yang tidak menggunakan,” kata Ziadi, dalam pelaksanaan tanam bersama padi sawah di Pulau Temiang.

Ziadi pun mengakui jika saat ini hasil produksi sawah di Kabupaten Tebo belum bisa memenuhi kebutuhan lokal, hasil panen padi di Tebo baru mencapai 2.278 ton dalam satu bulan.

“Panen Januari sampai April, itu ketersediaannya hanya bisa sampai bulan Juli,” kata Ziadi.

“Tidak ada jalan lain harus tanam dua kali,” tambah Ziadi, di hadapan Gapoktan Tuah Sepakat.

Apalagi, katanya, pihaknya mendapat surat edaran dari Food Agriculture Organization (FAO) yang merupakan organisasi di PBB, bahwa dunia diperkirakan akan mengalami krisis pangan akibat pandemi Covid-19.

“Ini yang kita antisipasi, jangan sampai kita mati kelaparan,” kata Ziadi. (kilasjambi.com)

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *