Legenda Batu Betino dan Jantan di Lubuk Mandarsah Tebo

Patung Betino

Kisah ini datang dari Bukit Karendo di Desa Lubuk Mandarsah, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo. Di bukit itu terdapat dua batu yang bersemayam. Masyarakat desa setempat menyebutnya petung betino dan patung jantan.

Seketika mendegar kisah keberadaan dua patung tersebut, langsung menggugah rasa penasaran. Keberadaan dua patung batu itu telah hidup lama dalam ingatan masyarakat Lubuk Mandarsah.

Ketua Lembaga Adat Desa Lubuk Mandarsah, Jamali A.B (72) menuturkan, keberadaan batu itu kerap disebut dengan patung. Kedua jarak batu di Bukit Karendo itu kata dia, tidak terlalu jauh atau hanya sekitar 100 meter.

Datuk Jamali adalah kepala desa pertama di Desa Lubuk Mandarsah. Ia masih ingat betul sekitar tahun 1982-an pernah mengantarkan arkeolog survei ke sana. Pada waktu itu bentuk patung masih utuh.

Untuk yang sosok batu perempuan atau betina, posisinya baring terlentang dengan posisi kedua kaki yang sedikit ditekuk. Sedangkan bentuk yang batu jantan, posisinya seperti orang sedang membungkuk.

“Nampak itu, dulu jelas utuh, kalau ditengok dari jauh persis perempuan sedang baring, cuma sayang orang-orang tuo kito itu dulu dibiarkan, tidak dirawat, dan disepelekan karena ada gaib,” kata Jamali ketika ditemui Kilasjambi.com, di kediamannya di Lubuk Mandarsah, Kamis 16 Juli 2020.

Kutukan Si Pahit Lidah

Kisah dua patung batu itu menurut cerita turun-temurun yang disampaikan Jamali, berasal dari legenda Si Pahit Lidah. Kedua patung batu merupakan buah kutukan dari orang sakti yang bernama Si Pahit Lidah.

Sosok batu itu kata Jamali, adalah Putri Pinang Masak. Sedangkan untuk sosok batu jantan adalah calon suami Putri Pinang Masak. Menurut dia, Putri Pinang Masak yang berada dikutuk di Bukit Kerando itu berbeda dengan Putri Selaro Pinang Masak.

Konon cerita kata Jamali, Putri Pinang Masak seorang perempuan suku Melayu Jambi dari Batanghari. Putri Pinang Masak berangkat merantau bersama calon suaminya menuju daerah Reteh Riau. Namun, kepergian keduanya tanpa persetujuan dari orang tuanya.

Saat di tengah perjalanan keduanya lalu singgah di wilayah Sungai Landai, atau tepatnya di Bukit Karendo, sehamparan Bukit Rinting.

Masih dalam cerita turun-temurun yang disampaikan Jamali, dalam persinggahannya di atas Bukit Karendo, Putri Pinang Masak secara tiba-tiba bertemu dengan Moyang Si Pahit Lidah.

Lalu terjadilah pembicaraan. Dan kemudian Si Pahit Lidah menyumpahi Putri Pinang Masak bersama calon suaminya tadi menjadi batu. Hingga akhirnya sampai kini batu betino itu disebut kuburan Putri Pinang Masak. Dan juga disebut pula batu betino dan batu jantan.

Ceritonyo dulu dikutuk jadi batu, Si Pahit Lidah bilang dari pado Putri Pinang Masak susah-susah merantau dak direstui orang tuo eloklah jadi batu,” kata Jamali. “Cerito ini lah ado dari dulu dari moyang kami.”

Batu betino itu kata Jamali, berukuran panjang 12 meter dan lebar 2 meter. Sekarang kondisi komponen tubuh patung batu itu telah rusak dan tak utuh lagi karena tidak ada kontrol dan perhatian dari pemerintah.

Kini seiring berjalannya waktu, Kedua batu betino dan jantan itu pun terkepung hutan akasia dan perkebunan sawit. “Seharusnyo dibuatkan pagar di sekelilingnyo,” kata Jamali.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts