KILAS JAMBI – Fakultas Dakwah UIN Sulthan Thaha Syaifuddin (STS) Jambi secara sederhana menggelar yudisium untuk 61 mahasiswa sekaligus pengukuhan pengurus alumni tahun 2025. Selasa (25/11), di GTC Sutha Inn Syariah.
Peserta yudisium berasal dari empat Program Studi (Prodi). Yakni: Prodi Jurnalistik Islam (JI) sebanyak 24 orang, Prodi Manajemen Dakwah (MD) 6 orang, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) 25 orang, serta Prodi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) sebanyak 16 orang.
Dekan Fakultas Dakwah, Prof Ahmad Syukri, mengucapkan rasa bahagia dan syukurnya karena kegiatan ini bisa berlangsung dengan sukses, “Saya yakin lulusan Fakultas Dakwah siap berkiprah di masyarakat, karena banyak yang sudah didapat dan dipelajari dari Fakultas Dakwah,” katanya.
Ia pun meminta lulusan Fakultas Dakwah bisa cepat merespon dan beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi.
“Kalian para sarjana lulusan Fakultas Dakwah harus responsif dan adaptif dengan teknologi informasi,” kata Prof Syukri
“Menjadi seorang sarjana janganlah berhenti belajar. Teruslah belajar mencari ilmu dan tak lupa akhlak juga dijaga,” katanya menambahkan.
Wakil Dekan III Fakultas Dakwah, MJ Habe, berharap para lulusan Fakultas Dakwah untuk menjaga kebersamaan dan meningkatkan kualitas serta menjaga marwah Fakultas Dakwah di tengah masyarakat.
“Alumni harus mensosialisasikan tentang Fakultas Dakwah terutama empat Prodi yang ada,” katanya MJ Habe.
Dan yang tak kalah pentingnya, kata dia, para alumnus diharapkan bisa berproses dengan perilaku yang positif di masyarakat luas. Harapannya alumni bisa menjaga solidaritas dan menjaga serta membangun jaringan yang kuat.
Dimeriahkan Seniman Jalanan
Menariknya, yudisium kali ini dimeriahkan dengan penampilan seniman jalanan yang populer di dunia aktivisme Jambi, Ismet Isnaini.

Seniman sekaigus aktivis yang familiar dengan nama panggung Ismet Raja Tengah Malam ini membawa beberapa tembang andalannya. Tembang yang berisikan lirik-lirik perjuangan.
Tak banyak musisi yang berkecimpung di jalur musik rakyat seperti Ismet Raja. Ia memilih untuk bertahan. Ia bahagia dapat menyuarakan kisah nestapa sekaligus perjuangan dan harapan akan masa depan bumi lestari.