Cerita Hartini Sang Penjual Gado-Gado Naik Haji: Kumpulkan Uang Receh

Hartini melayani pelanggan gado-gado racikannya, foto: ist

KILAS JAMBI – Ikhlas berjuang untuk menafkahi 4 (empat) orang anak sebagai penjual gado-gado, kisah Hartini Sang Penjual Gado-Gado Naik Haji di usia 60 tahun ini membuat haru. Jemaah yang tergabung dalam Kelompok Terbang (KLOTER) BTH 22 Provinsi Jambi ini mendapat kuota keberangkatan ke Tanah Suci pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 2024. Hartini yang masuk dalam KLOTER pertama Provinsi Jambi, diberangkatkan ke Tanah Suci pada Senin, 3 Juni 2024.

Diceritakan oleh Hartini jelang keberangkatan ke Tanah Suci, dirinya berprofesi sebagai penjual gado-gado dimulai sejak tahun 2005. Dimana sang suami yang lebih dulu meninggal dunia, mengharuskan dirinya berjuang keras untuk menafkahi anak-anak.

“Suami saya sudah meninggal sudah 28 tahun lalu. Saya ditinggal suami, saya usaha gado-gado. Apapun saya kerjakan, yang penting anak bisa sekolah, kuliah, untuk biaya hidup anak saya. Anak saya yang kecil itu umur 4 tahun ditinggal bapaknya, tidak tahu bapaknya. Saya anggap sudah hidayah buat saya. Saya tidak merasa capek, tidak merasa lelah. Saya ingin menghidupi anak saya, Alhamdulillah,” ujarnya.

Hartini menuturkan, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dirinya tidak hanya berprofesi sebagai penjual gado-gado, melainkan juga berjualan di kantin SMP Negeri 17 Kota Jambi yang berada di samping kediamannya, yakni di kawasan Telanaipura, Kota Jambi. Menerima titipan orang lain, kue yang Hartini jajakan memiliki keuntungan Rp 200,- per potong. Mengatur ritme pekerjaan yang sehari-harinya berjualan di kantin sekolah, Hartini menjual gado-gado pada saat libur sekolah, hari Sabtu dan Minggu, serta pada bulan Ramadan.

“Sejak tahun 2005 saya jualan di kantin juga ambil titipan. Ada titipan orang Rp 800,- saya jual Rp 1.000,-. Jadi Alhamdulillah dapatnya Rp 200,-. Jualannya tuh banyak ada macam-macam, ada risol, ada tahu goreng, ada bakso goreng. Suka dukanya banyak, kadang kalau hujan kehujanan, kadang panas kepanasan, kadang rame, kadang tidak, ya namanya jualan kan ya. Kalau itung-itung capek ya memang capek. Tidak ada waktu, tapi ya saya anggap itu berkah,” ungkap Hartini.

“Saya tidak pernah lelah menghidupi anak, tidak merasa capek ,yang penting Lillahi Ta’ala,” lanjutnya.

Diceritakan Hartini, setiap harinya menjual gado-gado, sedikit-demi sedikit uang iya sisihkan untuk ditabung. Selain untuk kehidupan keluarga terutama membayar kebutuhan biaya anak sekolah, atas inspirasi menonton tayangan televisi dan melihat orang lain bisa beribadah haji, maka Hartini menyisihkan uang tabungan untuk bisa beribadah ke Tanah Suci.

Hartini bisa menunaikan ibadah haji tahun ini dari hasil jualan gado-gadonya, foto: ist

“Jual gado-gado lah saya bisa menabung sedikit demi sedikit, Rp 3.000,-, Rp 5.000,-, Rp 10.000,-. Itulah saya menabung sehari-sehari, saya kumpulkan ya sekalian hidupi anak 4 (empat). Pengen aja ya lihat orang-orang di Mekah itu. Ya Allah, ya Tuhanku, kapan aku bisa ke Tanah Suci ya Allah, berikanlah aku rezekimu yang berkah, supaya rezeki saya sampai ke Mekkah. Memang sudah niat, apalagi sering buka-buka TV. Saya berpikir dapat panggilan, Alhamdulillah saya berjuang keras untuk kesana (Tanah Suci), Alhamdulillah Allah mengabulkan doa. Semuanya ya berusahalah, sedikit demi sedikit, Alhamdulillah terwujudlah daftar haji,” ujarnya.

Diungkapkan oleh Hartini, bahwa uang receh yang ia kumpulkan, ditabung ke dalam kaleng-kaleng bekas yang ada di rumahnya. Al hasil, pada tahun 2012 terkumpulah uang senilai Rp 25.000.000,-, kemudian uang tersebut digunakan Hartini untuk mendaftar haji. Selanjutnya untuk melunasi pembiayaan berhaji, Hartini kumpulkan kembali dari hasil berjualan gado-gado dan kue di kantin sekolah.

“Itulah dikumpul, dimasukkan di dalam kaleng. Pulang dari jualan, masukin. Besoknya sisa belanja anak ada Rp 3.000,- masukkan lah, ada Rp 5.000,- masuk, ada Rp 10.000,- masuk. Yang Rp 25.000.000,- cash itu daftarnya di di DEPAG, Bank Syariah. Saya itu menabung sampai saya bisa mendaftar haji dengan duit receh daftar haji. Alhamdulillah tercapai daftar haji Rp 25.000.000,-. Dari situ jualan lagi ngumpul-ngumpul uang, ngumpul lagi untuk pelunasan,” ujarnya.

Hartini, ibu 4 (empat) orang anak ini diketahui memiliki 1 (satu) anak perempuan dan 3(tiga) anak laki-laki. Dengan persiapan matang, kini Hartini menunaikan Rukun Islam yang kelima. Terucap kesedihan, bahwa Hartini tidak bisa seperti orang lain, menunaikan ibadah haji bersama sang suami.

“Yang penting niat pertama sekali, kedua usaha, ketiga kita menjalani Ikhlas. Alhamdulillah tercapai. Sedih, orang kan berangkat sama suaminya. Tapi tidak apa-apa, kan saya sama Allah,” ujar Hartini.

Di penghujung wawancara eksklusif di rumahnya, Hartini menuturkan bahwa setelah berhaji, dirinya akan lebih memperbanyak ibadah dan ingin terus kembali beribadah di Tanah Suci. Hartini sang penjual gado-gado berusia 60 tahun ini berdoa agar anak-anaknya sukses dalam kehidupan dan dirinya menjadi haji yang mabrur.

“Berdoa dengan Allah SWT, supaya saya dikasih kesehatan dan kelancaran, kemudahan menjadi haji yang mabrur dan anak saya bisa sukses. Mudah-mudahan kawan-kawan yang kerjanya misalnya pemulung atau apa jangan merasa hina. Yang penting kita usaha, pasti ada jalan, asalkan duit halal.” tutupnya. (Mk)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts