Connect with us

Budaya

Malam Dana Buat Sang Maestro Pak Saidin

Published

on

Pak Saidin (Foto/Kita bisa.com

Jambi, Kilasjambi.com– Kisah seniman asal Muaro Jambi, Pak Saidin, yang berjuang melawan penyakit tumornya telah mengetuk rasa kemanusiaan. Demi panggilan itu, sejumlah jurnalis dan seniman akan menggelar Malam Penggalangan Dana bertajuk “Bantu Pak Saidin”.

Malam Penggalangan Dana akan digelar di Taman Budaya Jambi, Telanaipura, Kota Jambi, Selasa (25/6) pukul 18.30 WIB. Acara diisi  musikalisasi puisi Teater Kerlip dan Teater Alif, happening art Ida Bagus Putra, serta musik tradisi Zikir Beredah dan Tari Topeng persembahan grup seniman Muaro Jambi.

Untuk menggalang donasi, akan diadakan lelang lukisan seperti lukisan seniman Djafar Rasuh, Sumardi, dan Fauzi Zubir, serta foto  karya Sakti Alam Watir dan sejumlah kartunis. Puncaknya akan dilelang biola tradisional buatan tangan Pak Saidin.

“Rasa kemanusiaan kita merasa terpanggil untuk menggalang dana buat Pak Saidin,” kata Sakti Alam Watir, salah satu inisiator acara.

Malam Penggalangan Dana itu diinisiasi sejumlah jurnalis dan seniman. Sejak beberapa hari lalu, Irma Tambunan, jurnalis Harian Kompas, telah membuka dompet kemanusiaan buat pak Saidin di kitabisa.com. “Syukurnya sampai hari ini telah terkumpul Rp60 juta lebih. Kita berharap terus menggalang dana,” kata Nining Antero, Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia Jambi.

“Kita berusaha mengetuk hati banyak orang untuk membantu pengobatan Saidin,” tambah Agung Putra, Pimred Sitimang.com.

Kepala Taman Budaya Jambi Didin Sirojudin menambahkan turut mendukung sebagai bentuk  solidaritas bagi seniman yang membutuhkan pertolongan. Dari banyaknya seniman yang ikut serta menyumbangkan lukisan untuk dilelang menunjukkan kekuatan panggilan kemanusiaan.

Irma menjelaskan, Saidin merupakan generasi ketiga penerus Teater Komedi Melayu Dul Muluk, kesenian Zikir Beredah, ataupun Lukah Gilo dari Desa Lubuk Raman, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Darah kesenian mengalir dari kakek dan ayahnya. Kakeknya adalah pelakon Dul Muluk, sementara ayahnya penabuh rebana siam dan gendang.

Sejak kecil Saidin tumbuh dengan kesenian khas Muaro Jambi itu. Ia mahir sebagai pelakon dalam teater Dul Muluk. Ia juga piawai sebagai pelakon Zikir Beredah dan Lukah Gilo. Zikir Beredah adalah semacam pertunjukan musik selawat yang melibatkan belasan penabuh rebana siam dan gong.

Pada era 1980-an, ia tampil dari panggung ke panggung hampir setiap pekan di acara hajatan atau syukuran. Namun, memasuki era 1990-an, eksistensi kesenian tradisi itu mulai tergerus kehadiran aneka hiburan modern.

Saidin dan seniman lainnya baru menyadari ancaman besar itu pada tahun 2000. Ia dan kawan-kawannya pun berusaha membangkitkan kembali kesenian tradisi yang mulai redup itu.

Di tengah semangatnya untuk terus merawat teater Dul Muluk, Zikir Beredah, dan Lukah Gilo, Saidin didera penyakit tumor colli yang tumbuh di lehernya. Tumor yang enam bulan lalu baru sebesar kelereng terus membesar hingga melebih ukuran bola tenis. Penyakit itu membuat tubuhnya kurus dan merapuhkan otot serta persendiannya.

Menurut dokter yang memeriksa di Rumah Sakit Bhayangkara Kota Jambi, Saidin harus segera dioperasi dan dikemoterapi. Namun, operasi hanya dapat dilakukan di Palembang. Rangkaian pengobatan inilah yang mengganggu pikirannya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *