Upaya Restorasi di Hutan Lindung Gambut Londerang

Sekat kanal di HLG Londerang Jambi. Sekat kanal di HLG Londerang Jambi. kilasjambi.com

KILAS JAMBI - Raungan mesin ketek memecah pelan arus kanal gambut yang mulai surut. Dadang bersama beberapa warga Desa Rawasari harus mencapai tepian Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang sebelum air benar-benar surut, dan ketek tak bisa lewat. Beruntung, perjalanan setengah jam menyandarkan ketek di pinggiran lahan gambut tak jauh dari sekat kanal yang sedang dibuat warga Desa Rawasari.

"Limapuluh meter ke dalam, kita akan ketemu sekat kanal yang sudah selesai dikerjakan," kata Dadang, Ketua Masyarakat Peduli Api, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjungjabung Timur, Provinsi Jambi menunjuk ke arah jalan setapak gambut basah, Minggu 11 Juni 2017.

Dadang mengatakan, saat ini warga mendapatkan bantuan dari WWF untuk membendung 60 kanal kecil dan 10 kanal besar di HLG Londerang dengan luas 12.500 hektar. Dengan sekat kanal ini diharapkan lahan gambut tetap basah. Karena, 80 persen HLG Londerang terbakar di tahun 2015 lalu. "Waktu itu, kebakaran lahan sudah sampai ke belakang rumah warga," kenangnya.

Dengan kondisi seperti itu, warga Desa Rawasari tidak ingin kebakaran lahan dan hutan kembali terjadi seperti tahun 2015. "Semoga dengan sekat kanal yang sedang dibangun sekarang ini, kebakaran tidak lagi terjadi di daerah kami," kata Dadang.

Sampai di lokasi sekat kanal, Dadang memperlihatkan bagaimana sekat kanal yang sudah mereka bangun di atas kanal lebar 6 meter. Dengan material kayu dan karung diisi pasir, sekat kanal menahan laju air di kanal gambut. "Sekat kanal ini akan dibangun lagi di dalam HLG Londerang," katanya.

Selain membangun sekat kanal, warga Desa Rawasari diakuinya juga akan melakukan penanaman Jelutung Rawa di kawasan HLG. "Jelutung rawa merupakan tanaman dari daerah sini. Sehingga, sangat mudah ditanam dan getahnya nanti bisa digunakan untuk menambah eknomi masyarakat," jelasnya.

Sementara itu, Team Leader Program Rimba WWF-Indonesia, Tri Agung Rooswidaji mengatakan, pembangunan 70 sekat kanal di area HLG Londerang, Provinsi Jambi ditargetkan selesai dalam waktu enam bulan ke depan.

"Pembangunan sekat kanal itu merupakan restorasi gambut dengan strategi re-wetting (pembasahan ulang) yang tujuannya untuk mitigasi kebakaran lahan gambut pada musim kering," kata Tri setelah meninjau pembangunan sekat kanal sekitar area HLG Londerang.

Dikatakannya, pemulihan gambut di kawasan HLG Londerang salah satu program Rimba di kluster II yang mendapat dukungan dari lembaga donor MCA-Indonesia senilai Rp12 miliar.
"Kita kebut pengerjaannya untuk diselesaikan karena Program MCA-I ini akan berakhir pada Maret 2018," katanya.

Selain merestorasi dengan strategi re-wetting, di lokasi sekitar area HLG Londerang itu juga dilakukan restorasi dengan konsep re-vegetasi (penanaman kembali) pohon jelutung rawa di areal seluas 200 hektare yang merupakan area bekas terbakar yang terjadi pada tahun 2015.

"Untuk restorasi vegetasi, kita bekerjasama dengan masyarakat. Ada 150 ribu batang jelutung yang akan ditanam dan dikembangkan masyarakat desa Rawasari," katanya.

Jelutung (dyera lowii) itu merupakan komoditas tanaman lokal yang sebelumnya juga pernah dikembangkan masyarakat desa setempat di areal lahan gambut yang berada di sekitar kawasan HLG Londerang. "Tanaman jelutung itu nantinya diharapkan dapat menjadi sumber alternatif perekonomian masyarakat setempat," ungkapnya.

Terpisah, Akademisi Universitas Jambi, Yudhi Achnopha mengatakan, pembangunan sekat kanal di HLG Londerang berfungsi menjaga supaya kondisi kubahan gambut tetap basah sehingga dapat mencegah terjadinya kebakaran.

"Fungsinya itu air di gambut tetap ada dan gambut tidak kering. Sehingga masih bisa ditanami dan tidak mudah terbakar saat musim kemarau," kata Yudhi.

Sekat kanal yang dibangun dari pendanaan dari MCA-Indonesia itu diprioritaskan untuk membasahi gambut di sekitar Hutan Lindung Londrang dan wilayah budi daya sekitar Desa Rawasari saja.

Menurut Yudhi yang juga ekspert Sekat Kanal Hidrologi dan Rewetting itu, dengan menyekat seluruh salurah air yang berada di areal hutan lindung gambut masih tetap berfungsi menyimpan air pada kubahan gambut.

"Kabar baiknya, walaupun HLG Londerang pernah terbakar, tapi masih berfungsi menyimpan air," katanya menjelaskan.

Biaya pembangunan sekat kanal di area HLG Londerang itu diantaranya untuk kategori pembangunan satu sekat kenal besar (di atas enam meter) dibutuhkan biaya Rp100 juta. Kategori sedang atau empat hingga enam meter dibutuhkan biaya Rp51 juta.

"Sementara, yang paling kecil atau di bawah empat meter biayanya Rp21 juta untuk satu pembangunan. Yang mahal itu kayunya. Karena kayu yang kita pakai itu didatangkan dari Sumsel dan sudah memiliki sertifikasi," jelasnya. (Ramond)

Nilai butir ini
(0 pilihan)