Redaksi

Redaksi

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Jumat, 17 November 2017 15:37

JAMBI – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Jambi menggelar sosialisasi dengan seluruh elemen, di LPMP Jambi, Kamis 16 November 2017. Sosialisasi dilakukan untuk persiapan pemilihan gubernur, bupati, dan walikota tahun 2018. Kegiatan ini dilanjutkan dengan peresmian pojok pengawasan di Kantor Bawaslu Provinsi Jambi.

Kegiatan dihadiri anggota Bawaslu RI, Mochammad Afifuddin, koordinator bidang pengawasan dan sosialisasi, Panwaslu Kota Jambi, KPU Provinsi Jambi, forkopimda, pengurus partai, serta tamu undangan lainnya.

Disampaikan Mochammad Afifuddin, Anggota Bawaslu RI, pihaknya ingin ada kerja sama yang berkelanjutan antara Bawaslu dan masyarakat, terutama dengan media masa. “Apapun yang kita lakukan jika tidak diketahui masyarakat, itu semua percuma,” katanya usai kegiatan.

“Tantangan besar sebenarnya adalah mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi. Karena jika masyarakat ikut mengawasi, masyarakat harus tahu terlebih dulu pengetahuan tentang pengawasan,” sambungnya.

Afif mengatakan, hal ini menjadi pekerjaan yang serius. Bukan hanya di tingkat kabupaten/kota, provinsi, bahkan pusat juga harus bisa menjalin kerja sama dengan semua pihak terkait. “Tanpa kerja sama yang baik, Bawaslu tidak akan bisa menjalankan tugasnya secara maksimal untuk mengawasi. Terutama pada orientasi pencegahan,” ujarnya.

Dikatakannya, jika semua elemen menyampaikan pentingnya pengawasan pada saat Pilkada, hal ini pastinya akan berdampak besar. "Kita ingin pencegahan ini lebih maksimal dari pada penindakan. Karena, jika penindakan pastinya akan ada pihak yang akan di vonis,” ujarnya.

Pimpinan Bawaslu RI tersebut juga meresmikan Pojok Pengawasan, sebagai sarana peningkatan pengawasan partisifatif bagi masyarakat.

Pimpinan Bawaslu Provinsi Jambi, Rofiqoh Pebrianti mengatakan, Pojok Pengawasan ini merupakan program dari Bawaslu RI di Korbid pengawasan, menurutnya, tempat tersebut merupakan sarana berdiskusi dan bertukar informasi masalah pengawasan.

Tujuan utama adanya Pojok Pengawasan ini menyasar masyarakat, menurutnya, sarana ini untuk meningkatkan pengawasan partisifatif bagi masyarakat. “Dari Pojok Pengawasan inilah masyarakat bisa mendapatkan informasi, nanti disiapkan buku, komputer yang bisa diakses tentang data-data pengawasan kita,” ujar Rofiqoh. (kj01)

Minggu, 10 September 2017 12:58

Tak banyak orang bisa membaca dan menuliskan aksara yang telah berusia lebih dari 10 abad itu.

KILAS JAMBI - Iskandar Zakaria mengeluarkan tanduk kerbau berwarna cokelat tua dari dalam lemari di kediamannya di Dusun Nek, Sungaipenuh, Jambi. Beriring itu, dia juga mengambil seruas bambu.

Permukaan kedua benda berusia ratusan tahun tersebut menampakkan gurat berpola yang dikenal sebagai aksara Incung atau aksara Melayu Tua. "Seperti ini bentuk aksara Incung," kata Iskandar seraya menunjukkan abjad dimaksud kepada Beritagar.id, Minggu (30/7).

Nyaris tiap dusun di Sungaipenuh dan Kerinci menyimpan pusaka berhiaskan aksara yang didominasi garis miring. Tanduk dan bambu adalah dua dari ratusan pusaka di Kerinci Jambi yang lazim dipakai sebagai media untuk mengabadikan tulisan itu.

Menurut Iskandar, pusaka seperti tanduk dan bambu hanya dapat dikeluarkan pada saat Kenduri Sko (pusaka) yang berlangsung sekali dalam setahun atau sepuluh tahun. "Tidak bisa sembarangan mengeluarkan benda pusaka yang disimpan di masing-masing dusun," ujarnya.

Orang luar dilarang melihat wujud pusaka. Selain itu, mereka pun diharamkan untuk mendapatkan cerita mengenai makna tulisan. "Biasanya harus mengeluarkan biaya yang besar untuk melihat dan mengetahui apa yang terdapat dalam pusaka yang disimpan masyarakat," kata Iskandar.

Tahapan tertentu untuk mengetahui arti huruf-huruf tersebut mesti dilewati. Tujuannya jelas, yakni agar "benda pusaka tidak terlalu sering dikeluarkan dan berakibat kepada kerusakan (-nya)".

Biasanya, tetua adat harus lebih dulu bermusyarawah untuk memutuskan apakah pusaka tersimpan dapat diekspos. Lantas, untuk mengeluarkan pusaka--termasuk yang mengandung aksara tersebut--Kenduri Sko mesti digelar. Upacara itu dilangsungkan sewaktu akan memilih Depati atau pembersihan pusaka.

Namun, Iskandar agaknya bersikap lebih luwes terhadap koleksi pribadinya. "Yang saya simpan sudah berusia ratusan tahun. Tapi, saya terbuka saja untuk dilihat buat orang yang membutuhkan penelitian dan belajar aksara Incung," kata pria yang telah mengenal aksara tersebut sejak 1966.

Pada awal perkenalannya, dia belajar mengenai aksara Incung dari tetua adat. Upaya untuk mendalami cara membaca dan menuliskan abjad nan telah ada sejak abad ke-10 itu pun berlaku kian intens.

"Banyak penelitian terhadap benda pusaka yang ada di Kerinci memastikan bahwa aksara Incung ini sudah ada sejak abad kesepuluh," ujarnya.

Dia mengaku beberapa kali diminta mengajarkan cara membaca dan menulis aksara itu oleh pemerintah.

Namun, Iskandar memandang pemerintah belum berupaya maksimal. Tolok ukurnya adalah masih kecilnya upaya menggunakan aksara Incung di Provinsi Jambi. Sejauh ini, penggunaan aksara baru teraba di Sungaipenuh dan Kerinci.

"Kalau di Kerinci dan Sungaipenuh, aksara Incung sudah digunakan untuk penulisan nama jalan, nama-nama kantor pemerintahan," katanya.

Dalam hemat Iskandar, Pemerintah Provinsi Jambi tidak melihat aksara Incung sebagai kekayaan budaya daerah. Buktinya, wilayah di luar Kerinci dan Sungaipenuh masih menggunakan aksara Arab Melayu untuk menuliskan nama kantor pemerintahan. "Padahal, kita punya aksara sendiri (aksara Incung)," ujarnya.

Meski demikian, dia masih berharap pemerintah dapat terus melestarikan aksara Incung ke tengah masyarakat. Satu cara untuk memungkinkan itu adalah memasukkannya sebagai muatan lokal di tiap sekolah di Provinsi Jambi.

"Kita sama-sama berupaya agar kekayaan budaya Jambi ini bisa terus lestari," ujarnya.

Ketika ditemui secara terpisah, Depati Syahdol Maera, Datuk Singarapi Putih, Ninik Mamak di Sungaipenuh, bercerita bagaimana mereka sangat menghormati peninggalan leluhur. Bentuk penghargaan itu: ada beragam pusaka sudah 10 tahun belum dikeluarkan dari penyimpanan.

"Terakhir tahun 2007 kami menggelar Kenduri Pusaka," kata sang Depati di Sungaipenuh, Senin (31/7).

Seturut pengakuannya, adat setempat melarang pusaka simpanan dikeluarkan secara sembarangan. Adat juga tidak memperkenankan penyingkapan atas makna aksara yang ditorehkan pada pusaka.

"Kami harus musyawarah terlebih dahulu. Jika tidak, akan ada dera terhadap kami, khususnya anak betina kami," katanya menjelaskan.

Perundingan melibatkan Datuk Singarapi Putih, Pemangku Rajo, Rio Jayo, Rio Temenggung, dan Rio Meniho.

Kelimanya adalah pemangku adat yang dipercaya dan dipilih masyarakat untuk mengatur segala hal-ihwal adat setempat.

"Benda pusaka, termasuk yang ada aksara Incung, kami simpan di Rumah Gedang," kata Depati yang baru dipilih lima bulan lalu tersebut.

Depati Syahdol belum mampu membaca aksara Incung. Dia dan pemangku adat lain yang menyimpan benda pusaka hanya mengetahui isi kisah dari para tetua adat yang menceritakannya secara secara turun temurun.

"Tidak semua orang yang bisa membaca aksara incung yang terdapat di benda pusaka," ujarnya.

Benda pusaka ini biasanya mereka bersihkan beberapa bulan sekali dengan minyak kelapa dan air jeruk nipis. Pusaka hanya dilap saja, terutama yang terbuat dari besi, tanduk, dan bambu. Akan halnya yang terbuat dari kertas, pembersihan tak memakai air.

"Pusaka kami masukan ke dalam peti, dan disimpan di loteng rumah," katanya seraya menambahkan bahwa cara mengurus pusaka itu didapatkan secara turun temurun.

Sejauh ini, menurutnya, belum tampak upaya pemerintah mengampanyekan upaya pemeliharaan dan perawatan benda pusaka.

Namun, Kepala Dinas Pariwisata Kerinci, Ardinal, mengatakan Pemerintah Kabupaten Kerinci berupaya maksimal dalam melestarikan aksara Incung dengan memasukkannya sebagai muatan lokal. Dalam setiap pameran pariwisata dan kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Kerinci menjadikan aksara Incung sebagai andalan.

"Tahun 2015 dan 2016, aksara incung dipamerkan di Festival Danau Kerinci. Namun tahun 2017 tidak kami lakukan," katanya.

Ardinal mengatakan Pemerintah Kabupaten Kerinci tak menyiapkan anggaran khusus untuk melestarikan aksara Incung. Soalnya, upaya itu dilakukan Balai Cagar Budaya. "Biasanya langsung dari Cagar Budaya yang menganggarkan untuk pelestarian benda pusaka yang terdapat aksara incung Kerinci. Kami sifatnya hanya koordinasi," ujarnya.

Depati Alimin, Pemangku Adat Alam Kerinci, salah satu tokoh yang sanggup menulis dan membaca aksara Incung, mengaku tak banyak orang memahami warisan budaya lokal tersebut. Untuk itu, dia berupaya membuat panduan praktis cara menulis dan membaca aksara Incung.

"Sudah sering saya melakukan pelatihan cara mudah menulis dan membaca aksara incung," kata Depati Alimin, Minggu (30/7).

Menurutnya, tidak semua abjad kuno itu mudah terbaca. Sebab, terdapat beberapa versi penggunaan yang terlekat dengan konteks zaman produksinya.

"Ejaannya tidak satu saja. Ada yang memakai titik, ada yang memakai bulat untuk tanda baca," ujarnya. "Huruf induk tetap, tapi cara pemakaian ada perubahan".

Tulisan Incung merupakan peradaban masa silam suku Kerinci. Ini dibuktikan dengan adanya benda-benda pusaka (pedandan) negeri yang menyertakan aksara tersebut. Benda-benda bertulisan itu antara lain tanduk kerbau, ruas bambu, kain, dan daun lontar yang seluruhnya disebut sebagai naskah kuno suku Kerinci.

"Bahasa yang dipakai dalam penulisan naskah adalah bahasa kerinci dahin (lama). Yaitu bahasa lingua franca suku Kerinci zaman dahulu. Fonetis yang terdapat pada naskah incung umumnya memakai bahasa melayu kuno," katanya.

Dia menyatakan sangat berharap aksara Incung dipopulerkan tanpa mengubah dan mengurangi aturan baca-tulisnya. Penambahan tanda atau simbol huruf atau bunyi menggerus tata bahasa naskah kuno Incung. Akibatnya, masyarakat tak lagi bisa mereguk faedahnya.

Kata Depati Alimin, karakteristik bahasa Kerinci sekarang terletak pada kekayaan dialek. Hal begitu tidak ditemui di daerah lain di Indonesia. Di antara faktor yang mempengaruhi banyaknya dialek suku Kerinci tersebut adalah dominasi hubungan geneologis teritorialnya.

"Di Kerinci, meskipun suatu dusun bertetangga dan hanya dibatasi jalan atau sungai saja, bisa berbeda dialek. Tetapi, ketika saling berkomunikasi mereka sama mengerti maksud dari pembicaraan lawannya," ujarnya.

Dia kemudian menjelaskan bahwa aksara Incung dibentuk oleh garis-garis lurus, patah terpancung, dan lengkungan. Untuk hal disebut belakangan, jumlahnya cuma beberapa huruf.

"Pengertian Incung untuk sebutan menulis miring ke kanan belum dapat ditetapkan sebagai defenisi aksara ini," katanya.

Beberapa abjad memiliki persamaan bentuk dengan aksara di wilayah Sumatra lainnya meski tidak disebut huruf miring. "Aksara Incung Kerinci memiliki karakteristik, dan merupakan salah satu aksara proto Sumatera," ujarnya.

Semua aksara itu tergolong tulisan fonetik ber-suku kata yang merupakan bunyi huruf hidup layaknya aksara Arab.

"Aksara incung memiliki 28 huruf. Lebih banyak dibandingkan huruf latin. Tapi aksara Incung memiliki keindahan artistik dalam setiap bentuknya," ungkap Depati. (M Ramond EPU)

Tulisan ini sudah dimuat beritagar.id pada kanal Laporan Khas, Minggu, 27 Agustus 2017.

Sabtu, 09 September 2017 13:31

Beberapa orang yang telah melihat orang pendek, dalam bahasa setempat Uhang Pandak, meyakini makhluk itu sejenis primata.

KILAS JAMBI - Dua puluh tiga tahun silam di tengah kerapatan rimba Taman Nasional Seblat (TNKS) Jambi, Debbie Martyr hanya bisa mematung. Tubuhnya kaku saat makhluk besar, pendek, berbulu, dan tidak berekor melintas beberapa langkah di hadapannya.

"Saya tidak percaya dengan apa yang saya saksikan," ujarnya kepada Beritagar.id, Minggu (30/7), di Sungai Penuh, Jambi.

Pada hari yang dilukiskannya itu, rasa penasaran yang terpendam bertahun-tahun bersambut. "Kamera yang saya pegang sampai terjatuh, dan (saya) tidak sempat untuk mengabadikannya," kata Debbie.

Orang lokal menyebut makhluk yang dilihat Debbie Uhang Pandak atau orang pendek. Pada 1989 ketika mendaki Gunung Kerinci untuk kali pertama, Debbie mendengar cerita tentang makhluk tersebut dari warga setempat.

Usai terbentur insiden seketika itu, Debbie pulang ke Inggris demi menggali lebih jauh kisah Uhang Pandak. Sialnya, dia tak mendapatkan banyak petunjuk di kampung halamannya. Karena itu, pada 1993 perempuan itu memutuskan kembali ke Indonesia.

"Awalnya mau datang ke Pulau Komodo dan Flores. Tapi karena tahun itu di sana gempa, saya putuskan kembali ke Kerinci," katanya.

Lantas, pada kedatangan kedua, Debbie berupaya mencari orang-orang yang pernah melihat dan bertemu Uhang Pandak. Dari mereka dia beroleh cerita sama, yakni bahwa makhluk dimaksud pendek besar, berjalan dengan dua kaki, dan tubuh berbulu.

"Saya semakin penasaran. Sampai akhirnya saya harus menyusuri taman nasional untuk membuktikan bahwa makhluk ini ada," ujar Debbie.

Debbie akhirnya melihat makhluk yang selama ini dia buru pada 1994. Perjumpaan terjadi setelah dia berada hampir tiga minggu di hutan TNKS Jambi.

"Banyak yang marah kepada saya, mengapa tidak langsung mengambil foto. Mereka tidak tahu bagaimana terkejutnya saya ketika pertama kali melihat makhluk ini," ungkapnya.

Penyaksian itu tak membuat Debbie berhenti mencari. Tekad ia pahat: jika kelak melihat atau bertemu Uhang Pandak, dia bakal menembakkan kameranya.

"(Saya) hanya bisa bercerita pengalaman bertemu. Sama dengan warga Kerinci yang lain," jelasnya. "Sampai lima kali saya ketemu Uhang Pandak. Satu pun tidak ada yang bisa saya foto," ungkapnya. Menurutnya, problem yang dihadapi saat peristiwa tak tunggal, mulai dari perkara jarak hingga kondisi alam--misal, terhalang ranting dan rimba lebat.

Mantan jurnalis London itu menyatakan Uhang Pandak bergerak sangat cepat saat menghilang. Upaya pemasangan perangkap kamera untuk merekam wujudnya di TNKS pun tidak membuahkan hasil.

"Wujud Uhang Pandak ini hanya pernah ada sketsanya. Dibuat seorang pelukis di Kerinci dengan mendengarkan kesaksian warga," ujarnya mengenai makhluk yang belum dapat dibuktikan keberadaannya secara ilmiah.

Debbie pernah menyerahkan sejumlah foto berisi jejak dan kotoran dari arsip pribadinya ke Balai Besar TNKS. Tapi, "belum ada yang mau melakukan penelitian secara serius terhadap makhluk ini," katanya.

Kondisi demikian berujung kepada keputusan untuk tak lagi mencari Uhang Pandak pada 1996. Walau begitu, Debbie masih beraktivitas di TNKS demi melindungi Harimau Sumatera yang terancam punah.

"Secara profesional saya tidak lagi mencari keberadaan Uhang Pandak. Tapi secara pribadi, saya masih menyimpan keinginan untuk membuktikan keberadaan Uhang Pandak di Kerinci," kata perempuan yang meyakini Uhang Pandak adalah sejenis primata.

Uhang Pandak tergolong primata

Keyakinan Debbie jelas berseberangan dengan pendapat khalayak mengenai Uhang Pandak. Pada sangka mereka, seperti teraba pada kisah-kisah yang tersebar, Uhang Pandak manusia. Bahkan, ada pula orang-orang yang percaya bahwa Uhang Pandak memiliki kaki terbalik (tumit di depan, jari di belakang).

"Banyak juga orang-orang yang menambah-nambah cerita mengenai Uhang Pandak ini. Hanya beberapa orang yang bisa saya percaya dengan kesaksian bertemu dan melihat Uhang Pandak," ungkapnya.

Dalam hemat Debbie, kekayaan fauna di TNKS masih berselubung misteri. Satu misal dari kenyataan ini bertaut pada pengalamannya saat melihat sejenis kijang langka terjerat jebakan warga. Menurutnya, hewan dimaksud termasuk sebagai Kijang Gunung yang sudah dinyatakan punah di TNKS.

Walau Uhang Pandak lekat dengan teka-teki, bukan Debbie belaka yang pernah berkesempatan melihatnya. Rahmat Arifin, pendamping Debbie ketika meneliti Uhang Pandak pada 1994, mempunyai pengalaman serupa.

Staf Seksi Pengelolaan TNKS Wilayah I Kerinci ini berkisah bahwa selama sebulan pencarian, dia dan Debbie tak sekali pun menemukan Uhang Pandak di medan yang diceritakan warga.

"Justru kamera trap yang kami pasang lebih banyak menangkap gambar Harimau Sumatera," kata Arifin di Kantor Balai TNKS di Sungai Penuh, Senin (31/7).

Arifin akhirnya menyarankan Debbie untuk meneliti Harimau Sumatera yang benar-benar ada di TNKS.

"Saya sampaikan kepada Ibu Debbie, Harimau Sumatera ini perlu dilindungi. Ibu Debbie memutuskan untuk melakukan penelitian Harimau Sumatera dan menghentikan pencarian Uhang Pandak," kata Arifin.

Menurut Arifin, upaya pelestarian Harimau Sumatera di TNKS berawal dari penelitian Uhang Pandak. Soalnya, penelusuran di daerah itu banyak menemukan pembalakan liar dan jerat harimau.

"Sampai sekarang pelestarian Harimau Sumatera ini terus dilakukan," katanya.

Dia mengatakan bahwa di tengah masyarakat beredar cerita yang kadang tidak masuk akal mengenai temuan fauna di TNKS.

"Saya ada ketemu operator chainsaw dan orang kampung (yang) menceritakan di dalam TNKS pernah melihat jigau, binatang berbadan kuda berkepala seperti singa. Hampir sama, cerita masyarakat mengenai Uhang Pandak di Kerinci ini," ungkapnya.

Menurut Arifin, kekayaan flora dan fauna di TNKS yang begitu kaya memungkinkan temuan tertentu. "Jigau ini ceritanya banyak ditemukan di kawasan TNKS yang berada di Sumatera Selatan," ujarnya.

Pada 2002, Arifin menjumpai Uhang Pandak saat sedang memetakan jalur perdagangan harimau. Waktu itu, dia dan tiga anggota timnya berpatroli di wilayah Tabir. Kemudian, mereka masuk ke TNKS selama dua belas hari.

Pada hari keenam, timnya menyeberangi Sungai Batang Tabir ke arah muara. Saat melewati Bukit Terbakar (disebut 'terbakar' karena sering dilahap api), GPS dan Kompas yang mereka pegang tidak berfungsi. Kelompok itu sempat mengitari bukit hingga tiga kali dan tidak menemukan jalan keluar.

"Kemudian kami ketahui Bukit Terbakar ini banyak batu meteor. Mengandung biji besi dan magnet yang mengakibatkan GPS dan Kompas tidak berfungsi," katanya.

Arifin mengambil cara alternatif. Dia menempuh koordinat 170 derajat ke arah desa terdekat. Lalu, ketika menuruni bukit, tepat 10 meter di hadapannya, terlihat primata persis dengan cerita yang selama ini didengarnya.

"Primata itu membelakangi saya. Warnanya abu-abu seperti kera. Tinggi kira-kira semeter, tubuhnya besar. Bisa juga dibilang mirip Orang Utan," ujarnya.

Peristiwa itu memicu rasa kagum dan terkejut. Namun, gerakan dari tiga orang anggota timnya yang sedang menuruni bukit membuat primata itu lari dan raib ditelan lebat pepohonan TNKS.

"Padahal sudah saya kasih kode untuk berhenti. Tapi mereka ada yang berlari dan terdengar oleh primata ini," kata Arifin. Sejak saat itu, dia akhirnya mulai membenarkan cerita orang-orang.

Sosok lain yang pernah bersua Uhang Pandak adalah Iskandar Zakaria, 74 tahun, seorang tokoh masyarakat Kerinci. Meski terjadi pada akhir 1990-an, Zakaria masih mengingat jelas momen pertemuan dengan Uhang Pandak dari jarak dua hingga tiga meter saja.

Menurut Iskandar, subuh belum lagi tiba pada saat kejadian. Tapi, dia mengaku "sudah bisa melihat sekitar (-nya) dengan jelas". Saat itu, ujarnya, dia tengah berjongkok di tepi sungai di perkebunan Gunung Raya sambil memandangi bukit di hadapannya.

Uhang Pandak kemudian turun dari bukit dimaksud. "Saya terkejut dan hanya bisa diam saja. Karena, Uhang Pandak itu berjalan tepat di hadapan saya," kata Iskandar di kediamannya, Minggu (30/7).

Iskandar pun hanya terdiam. Mata mereka beradu pandang. "Kejadian itu cepat sekali. Karena, setelah melintas di hadapan saya, Uhang Pandak hilang ke dalam hutan," jelasnya.

Dalam amatannya, wajah Uhang Pandak sama sekali tidak menyerupai manusia. Sekujur tubuhnya--bertinggi sekitar 80 sentimeter--ditutupi bulu seperti Orang Utan. Makhluk itu "pendek, gemuk dan matanya merah. Panjang tangannya melebihi lutut," ujarnya.

Karena melihat langsung, Iskandar membantah cerita bahwa kaki Uhang Pandak terbalik. "Kaki terbalik itu hanya mitos. Karena, kakinya tidak terbalik," katanya.

Iskandar lebih meyakini makhluk tersebut sebagai primata. Hanya cara berjalannya saja menyerupai manusia.

Iskandar sempat mengabadikan jejak, tempat tinggal, dan bekas makanan Uhang Pandak. Menurutnya, makhluk itu mendiami semak rimbun dan makan kulit kayu. "Dari yang saya temui di sekitar tempat tinggal Uhang Pandak ini banyak bekas kupasan kulit kayu," ujarnya.

Perihal masih ada masyarakat yang tidak mempercayai kisah Uhang Pandak dan menganggapnya sebagai mitos belaka, Iskandar memberikan penegasan. "Saya pastikan Uhang Pandak ini benar ada. Bukan mitos," katanya.

Dedi, pengendali ekosistem hutan Balai TNKS, berpendapat Uhang Pandak belum dikenali di TNKS karena luasnya taman nasional itu--1,4 juta hektare--dan minimnya penelitian mengenai primata tersebut.

Apalagi, kata dia, TNKS menjadi rumah bagi sembilan jenis primata seperti Ungko (Hylobates agilis), Siamang (Hylobates syndactylus), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Beruk (Macaca nemestrina), Kukang (Nycticebus coucang), untuk menyebut beberapa saja.

Sudah begitu, TNKS berfokus pada satwa prioritas seperti gajah dan harimau menyusul stabilnya spesies primata.

"Laporan secara lisan sudah sering kami terima dari warga dan peneliti. Mereka mengaku melihat jenis primata ini. Tapi tidak bisa membuktikan kesaksiannya," katanya di Balai Besar TNKS, Senin (31/7).

Meski demikian, Dedi mengatakan kemungkinan untuk meneliti primata yang lebih mirip Orang Utan masih terbuka lebar.

Menarik minat kelompok kriptozoologi

Upaya pencarian Uhang pandak Kerinci juga dilakukan Dally Sandradiputra, penekun kriptozoologi, yakni studi mengenai hewan yang keberadaannya belum dapat dibuktikan secara ilmiah dan masuk dalam ranah pseudosains.

Dia melakukan pencarian Uhang Pandak sejak 2008 dan mulai rutin menjalankannya sejak 2012. Dalam ekspedisi tersebut, Dally menjelajahi hutan Kerinci yang berbatasan dengan Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.

"Berawal dari saya mendampingi tim National Geographic untuk mencari Orang Pendek Kerinci. Saat itu saya tidak begitu tertarik, hanya mendampingi saja," ujarnya kepada Beritagar.id, Rabu (16/8).

Karena Indonesia tak memiliki komunitas kriptozoologi, Dally bergabung ke kelompok yang anggotanya banyak berasal dari luar negeri.

Namun, upaya perburuan sejauh ini belum berhasil. Belum sekali pun dia melihat langsung makhluk berjuluk Uhang Pandak meski telah menelusuri kawasan yang diyakini sebagai lokasi kemunculan--baik sungai, gua, maupun hutan di TNKS.

Pada 2017, Dally menemukan bulu rambut. "Tapi belum bisa saya pastikan karena belum dilakukan uji labor terhadap jejak dan bulu rambut yang saya dapatkan," katanya.

Satu kendala terbesar adalah urusan pendanaan. Pasalnya, Dally sulit mengandalkan dana pribadi untuk memeriksa temuannya di laboratorium. "Untuk tes DNA saja di luar negeri pernah saya cek butuh dana dua ribu dolar," ujarnya.

Sempat Dally mendapatkan foto makhluk dimaksud. Hanya, foto itu diambil dari jauh dan terhalang pepohonan. "Foto itu pernah saya diskusikan ke komunitas dan ahli kriptozoologi yang lain. Kami meyakini itu adalah foto Uhang Pandak Kerinci," jelasnya.

Foto itu dia ambil di Sumatera Barat. Menurutnya, sebelum menjepret dia mendengar suara seperti orang berlari. Setelah diamati, sosok itu tampak seperti Uhak Pandak. "Setelah difoto, tidak terlihat jelas," katanya.

Selama ekspedisi, dia menemukan berbagai persoalan di kawasan hutan Kerinci dan Sumatera Barat seperti, salah satunya, "aktivitas illegal logging".

Selain itu, dia tak sekali saja mesti berhadapan dengan ancaman binatang buas. "Pernah tempat kami menginap di dalam hutan ditunggu Harimau. Pada pagi harinya di dekat sungai tempat kami memasang tenda, banyak jejak harimau yang masih baru," katanya.

Meski begitu, upaya pencarian Uhang Pandak tak surut sekalipun dia pernah dianggap gila karena mencari binatang yang belum jelas keberadaannya.

"Saya ingin sekali ketemu Uhang Pandak. Ekspedisi ini akan terus saya lakukan sampai ketemu," ujarnya. (M Ramond EPU)

Tulisan ini sudah dimuat beritagar.id pada kanal Laporan Khas, Rabu, 23 Agustus 2017.

Kamis, 07 September 2017 14:59

Hari sudah larut, bulan terlihat berada di atas Desa Air Batu. Ruang tamu rumah Amri hening seketika. Pemuda dan tetua kampung terdiam. Pandangan mereka tertuju ke Mad Rasul.

KILAS JAMBI - Pria berusia lebih dari setengah abad ini berdiri. Di ujung kakinya dua buah tempurung kelapa (sayak). Sedangkan Amri dari semula sudah duduk di samping sayak sambil memegang alat musik sederhana dari seruas bambu tua yang diambil dari ruang gelap di dalam rumahnya.

Melihat sekeliling ruangan sejenak sebelum membuka langkah. Tak lama Mad Rasul mengelilingi sayak. Sedikit membungkuk, tangan kanannya diangkat hingga setinggi kening. Kembali ke posisi semula, Mad Rasul bersimpuh dan mengangkat kedua telapak tangannya hingga ke depan wajah. Tak lama, Mad Rasul berdiri dan membuat gerakan silat. Sementara itu, Amri mulai memukul-mukul bambu mengikuti gerakan Mad Rasul.

Kembali bersimpuh, Mad Rasul mengambil sayak di lantai dan mengadu punggung sayak menjadi ketukan setiap gerakannya. Setiap gerakan yang dilakukan Mad Rasul, sayak diketuk ke depan, ke belakang, ke samping dan ke atas menjadi gerakan tari. Sementara, pinggul Mad Rasul bergoyang layaknya penari perempuan. Tidak sampai satu menit, Mad Rasul menyudahi tariannya dengan meletakkan kembali Sayak ke atas lantai. “Begitulah kira-kira,” kata Mad Rasul, tokoh bebancian Tari Besayak Desa Air Batu, Renah Pembarab, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi setelah memperagakan gerakan Tari Besayak, Minggu, (9 /7).

Biasanya Mad Rasul menari 15 hingga 30 menit. Sekarang, jarang sampai 30 menit. “Gampang pegal linu,” ujar pria 65 tahun ini kepada kontributor Independen. .

Tari Besayak sebenarnya dimainkan 4 orang penari laki-laki. Hanya saja dua penari laki-laki akan memerankan penari perempuan, dengan dandanan perempuan. Lengkap dengan kostum kebaya, kain perempuan, hingga tengkuluk alias penutup kepala perempuan Jambi. Wajah pun dirias mirip perempuan. “Kalau sudah mau tampil, saya tidak akan terlihat seperti kakek-kakek, tapi banyak yang menyangka saya ini nenek-nenek,” kata kakek 4 orang cucu ini.

Tari ini dimainkan saat menyambut tamu, kenduri kampung, dan merayakan lebaran di Desa Air Batu. Tradisi yang berada di kawasan Geopark Merangin ini pertunjukkan hiburan sejak zaman dahulu. “Karena tidak ada hiburan, nenek moyang menjadikan tari ini sebagai hiburan di dusun,” ungkapnya.

Tradisi ini sempat hilang hingga 60 tahun lamanya. Sebabnya banyak saksi hidup kesenian ini yang telah meninggal. Baru pada 2013 Tari Besayak kembali dimainkan warga Desa Air Batu menjelang perpisahan kuliah kerja nyata mahasiswa Universitas Jambi. Mereka mengusulkan agar memunculkan kembali Tari Besayak.

Setelah dibicarakan dengan Tetua Kampung, akhirnya Mad Rasul bersama beberapa pemuda kampung latihan untuk menampilkan Tari Besayak. “Sejak saat itu, latihan terus dilakukan sampai Tari Besayak ditampilkan di beberapa pagelaran di Jambi,” Hendra Kusnadi, pemain musik Tari Besayak.

Mad Rosul mengaku bisa menari Besayak dengan mengingat gerakan yang pernah dipelajari ketika masih berumur 8 tahun. Ia mengaku saat itu telah diajarkan menarikan Besayak dari nenek moyangnya.

Ketika menarikan kembali di usia tuanya, Mad Rasul sempat mendapat penolakan dari anak cucunya. Karena diumur yang sudah tidak muda lagi, Mad Rasul harus menjadi banci dan menari layaknya perempuan. “Ada rasa malu sebenarnya. Tapi demi membangkitkan seni tradisi ini, tidak masalah,” tegasnya.

Peran bebancian yang dimainkan, merupakan peran vital dari Tari Besayak. Selain itu, peran Bebancian juga menjadi hiburan utama dari tarian ini. Bukan hanya unik, tapi juga kerap mengundang gelak tawa penonton yang hadir. “Peran perempuan di Tari Besayak selain lemah gemulai, juga lucu,” katanya tertawa lebar.

Di tengah keceriaan menggambarkan peranannya dalam Tari Besayak, Mad Rasul tidak bisa menyembunyikan kecemasannya terhadap seni tradisi ini. Karena tidak banyak pemuda di dusunnya yang mau memainkan peranan sebagai penari perempuan. Meski banyak pemuda yang mau berlatih, pada saat akan tampil menyambut tamu, mereka tidak mau tampil dengan alasan malu. “Akhirnya, saya lagi yang tampil. Padahal, dengan usia saya sekarang, ada juga keinginan untuk pensiun,” terang pria yang sehari-hari bertani ini.

Meski demikian, dirinya dengan pengurus di Sanggar Buluh Betuah Sayak Beguno Desa Air Batu, terus berupaya melestarikan seni tradisi Tari Besayak. Selain latihan sekali seminggu. Beberapa bulan ini, mereka sudah melatih tiga sekolah dasar dan tarian ini menjadi kegiatan ekstrakurikuler belajar di sekolah.

Dirinya berharap, generasi muda, tidak hanya di Desa Air Batu, bisa ikut memiliki dan menjaga Tari Besayak. Sehingga tetap ada sebagai kekayaan nilai tradisi di Jambi. “Karena, banyak nilai dan norma adat yang terkandung di dalam tari Besayak,” jelasnya.

Peran bebancian di Tari Besayak tidak semata-mata untuk hiburan. Tari Besayak ini juga menjalankan aturan adat di Desa Air Batu. Aturan adat yang dimaksud tak lain melarang laki-laki dan perempuan untuk menari bersama. Jika ada yang melanggarnya, denda hutang adat kambing satu ekor dan beras akan dijatuhkan.

Hendra berharap, pemerintah memberikan perhatian lebih kepada seni tradisi yang sedang mereka pertahankan ini. Seperti, lebih memberikan porsi pertunjukan di luar Desa Air Batu. Sehingga, bisa menjadi salah satu motivasi pemuda Desa Air Batu untuk terus latihan dan terus melestarikan seni tradisi kebanggaan Desa Air Batu.

Berawal dari Legenda Putri Letup

Hendra Kusnadi mengaku dirinya sudah mengumpulkan berbagai cerita dari Tetua Desa Air Batu mengenai awal mula Tari Besayak. Dari cerita yang didapatkannya, Tari Besayak sudah ada ratusan tahun lalu.

Berawal dari legenda nenek dan Putri Letup. Dahulunya sepasang suami isteri, nenek moyang Desa Air Batu membuka ladang. Setelah kayu ditebang, kayu dibiarkan beberapa bulan untuk dikeringi untuk dibakar. Namun kayu tersebut masih banyak yang tidak terbakar.

Maka ada seorang nenek membuat Panduk (mengumpulkan kayu-kayu yang tidak terbakar untuk dibakar lagi). Setelah kayu dibakar, nenek kembali ke pondok (rumah ladang). Tidak berapa lama, sampai di pondok, nenek mendengar sayup-sayup suara bayi menangis. Si nenek mencari sumber suara itu, dan menemukan bayi perempuan yang tergeletak di atas bara api panduk yang dibakarnya.

Nenek mengambil bayi itu dan mengobati bekas luka bakar. Bayi perempuan itu akhirnya dirawat dan diangkat sebagai anak. Bayi perempuan itu diberi nama Putri Letup. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Putri Letup tumbuh menjadi gadis cantik dan periang. Saat Putri Letup berusia 17 tahun, suatu malam, Putri Letup bermimpi didatangi wanita paruh baya berkerudung dengan dandanan sangat cantik.

Putri Letup bertanya kepada nenek yang mengasuhnya sejak bayi dan dipanggil Mak (Ibu). Akhirnya si nenek menceritakan awal mula si nenek menemui Putri Letup. Setelah mendengarkan cerita dari si nenek, Putri Letup menjadi gadis pemurung dan pendiam.

Pemuda di Desa Air Batu menjadi heran melihat perubahan Putri Letup. Para pemuda kampung akhirnya mencari cara membuat Putri Letup tidak lagi murung dan bersedih. Namun, beragam cara tidak juga membuahkan hasil. Akhirnya, pada pemuda bersepakat untuk membuat keramaian di rumah Putri Letup.

Dengan bermacam tari dan pencak silat, Putri Letup tetap murung dan diam. Di tengah meriahnya acara, tiba-tiba datang sosok pemuda berpakaian wanita yang telah usang membuka langkah silat dan menari menggunakan batok kelapa atau tempurung kelapa (Sayak). Dengan lenggak lenggok dan disertai ketukan Sayak ke kiri, kanan, atas, dan ke bawah, akhirnya Putri Letup tersenyum dan bersuara.

Mulai saat itu, Tari Sayak selalu ditampilkan pemuda Desa Air Batu pada pesta pernikahan, acara muda-mudi saat tanam padi (Ketalang Petang). Selain itu, Tari Sayak juga dilakukan sesudah panen padi.

Awalnya Penari Sayak hanya dilakukan satu orang pemuda. Karena dilihat kurang asik tanpa pasangan, maka tari sayak dilakukan berpasangan. Tapi untuk pasangan Penari Sayak harus laki-laki. Karena, kalau berpasangan dengan perempuan, menjadi pemandangan yang kurang baik di tengah kampung.

Para tetua dan pemuka adat Desa Air Batu pun membuat aturan di dalam Hukum Adat, apabila wanita yang menari Sayak akan dikenakan hutang adat. Sanksi adat berupa beras, dan satu ekor kambing. Hingga saat ini ini hukum adat ini masih dipakai masyarakat Desa Air Batu.

Keberagaman Gender Mendapat Peran dalam Tradisi Jambi

Pengamat Seni dan Budaya Jambi, Jafar Rassuh, menjelaskan, seni tradisi di Jambi tidak bisa dipisahkan dengan hukum adat dan kepercayaan masyarakat setempat. Sehingga, seni tradisi yang ada di Jambi kebanyakan diatur dalam hukum adat.

Tari Besayak merupakan satu di antara kesenian yang menjaga norma dan nilai adat agar tetap ada. “Perempuan menari atau tampil dalam suatu pertunjukan tidak diperbolehkan dalam hukum adat beberapa daerah di Jambi,” jelasnya kepada Independen, Jumat (14/7).

Sedangkan peran bebancian di dalam Tari Besayak menegaskan bahwa persoalan keberagaman gender di tengah masyarakat Jambi mendapatkan peran. “Status banci atau keberagaman gender di dalam hukum adat di Jambi memang tidak diakui. Namun, peranannya diakui,” kata Jafar.

Bahkan, peranan bebancian dilakukan untuk menjaga Hukum Adat yang sudah berkolaborasi dengan hukum agama. “Buktinya, laki-laki dijadikan perempuan dalam pertunjukan tradisi. Berarti peranannya diakui. Meski statusnya tidak diakui di tengah masyarakat,” katanya.

Selain Tari Besayak, ada tradisi Dul Muluk yang juga peranan perempuannya dimainkan laki-laki. Hukum adat yang mengatur larangan perempuan dalam satu pertunjukan dengan laki-laki ini menurut Jafar setelah Islam masuk ke Jambi. “Sementara hukum adat itu sudah ada sebelum masuknya Islam ke Jambi,” katanya.

Namun, Jafar lebih kuatir dengan nasib seni tradisi yang ada di Jambi. Karena, seni tradisi di Jambi dari pengamatannya rata-rata hampir punah. “Seni tradisi di Jambi berada di tepi jurang,” kata Jafar mengistilahkannya.

Bukan tanpa alasan dirinya menyatakan hal itu. Para pelaku seni tradisi di Jambi saat ini sudah memasuki usia lanjut. Sedangkan regenerasi seni tradisi tidak berjalan dengan baik. Khusus untuk seni tari, koreografer yang ada di Jambi kebanyakan mengolah seni tradisi tanpa pernah melihat langsung sumber utama tradisi.

“Kalau saya lihat, sudah banyak pergeseran akar seni tradisi yang diolah dan ditampilkan di beberapa pertunjukan di Jambi,” ungkapnya.

Sehingga, generasi muda yang melihat berbagai pertunjukan tradisi, tidak lagi melihat nilai dan makna yang terkandung di dalam seni tradisi Jambi. “Bukan tidak boleh mengolah. Tapi yang saya maksudkan, hasil olahan seni tradisi tidak menghilangkan akar seni tradisi itu sendiri,” jelasnya.

Dirinya juga mendukung seni tradisi yang diolah untuk dijadikan pertunjukan yang lebih menarik. Namun, ciri khas dan pesan dari seni tradisi itu tetap harus dipertahankan. “Sebaiknya, sebelum diolah, koreografer yang ada di Jambi terlebih dahulu melakukan riset terhadap seni tradisi yang dimainkan dimana seni itu berasal,” ungkapnya.

Selain itu, dirinya berharap pemerintah lebih serius dalam upaya pelestarian seni tradisi di daerah. Dengan cara menempatkan orang-orang di pemerintahan yang bertanggungjawab terhadap seni tradisi di daerah adalah orang yang paham dan peduli. “Dibutuhkan kebijakan pemerintah terkait pengelolaan seni tradisi Jambi,” katanya.

Jika tidak, menurutnya, bukan tidak mungkin banyak seni tradisi di Jambi di ambang kepunahan. “Taman Budaya Jambi selaku labor dari seni tradisi Jambi harus lebih aktif untuk mengolah seni tradisi yang ada di Jambi tanpa menghilangkan akar seni tradisi itu sendiri. Selain itu, dokumentasi dan revitalisasi seni tradisi harus dilakukan,” jelasnya.

Sementara itu, ditemui sebelumnya, Kepala Taman Budaya Jambi, Didin Sirojudin, mengatakan, pihaknya selaku pelaksana teknis pengembangan seni budaya dan tradisi terus berupaya maksimal untuk melakukan perlindungan terhadap seni tradisi yang ada di Jambi. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan mendaftarkan seni tradisi ini menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Tari Besayak Air Batu merupakan salah satu seni tradisi yang sudah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2015. “Sudah 18 seni tradisi yang ada di Provinsi Jambi tercatat menjadi Warisan Budaya Tak Benda,” ungkap Didin Sirojudin, Kamis (13/7).

Jangka panjang, Taman Budaya Jambi ditegaskannya akan menjalankan peran labratorium kesenian di Jambi. Dengan cara, melakukan pencatatan dan pengolahan berbagai seni tradisi yang ada di Jambi. “Apalagi untuk seni tradisi yang akan dipentaskan ke luar Jambi. Akan dilakukan uji labor terlebih dahulu di Taman Budaya Jambi. Sehingga, akan memberikan penampilan terbaik di berbagai pertunjukan daerah dan nasional,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya juga berharap pemerintah daerah tempat seni tradisi itu berasal juga berperan aktif dalam mengangkat berbagai seni tradisi daerah. “Sebaiknya juga dilakukan pengembangan di kabupaten/kota. Semua punya tanggungjawab untuk mengangkat kembali seni tradisi Jambi,” kata Didin.

Sementara itu, Toto Sucipto, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Tanjungpinang ketika dihubungi melalui sambungan telepon menegaskan, pemerintah terus berupaya melestarikan seni tradisi daerah. Dengan cara berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jambi untuk melakukan pencatatan seni tradisi daerah dengan didaftarkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda.

“Siapa saja bisa mengajukan seni tradisi yang ada di daerah untuk didaftarkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda ke pemerintah setempat atau ke kami,” kata Kepala BPNB Tanjungpinang untuk wilayah kerja Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Jambi dan Bangka Belitung itu, Jumat (14/7).

Ia menjelaskan 4 tahapan yang dilakukan sampai seni tradisi itu bisa ditetapkan sebagai WBTB. Yakni, pendaftaran, pencatatan, penetapan dan penominasian. “Setelah WBTB, bisa dinominasikan ke UNESCO untuk didaftarkan menjadi Warisan Budaya Dunia,” katanya.

Saat ini, sudah tujuh warisan budaya Indonesia yang sudah menjadi warisan budaya dunia. Yaitu, Wayang, Keris, Batik, Angklung, Saman, Noken, dan terakhir Tari Tradisional Bali. Selain itu ada tiga warisan budaya Indonesia yang segera ditetapkan menjadi warisan budaya dunia. Pinishi, Pantun, dan Pencak Silat.

Masuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda dan Warisan Budaya Dunia kata Toto, bukan akhir dari upaya pelestarian. Melainkan, menjadi tanggungjawab dan kewajiban negara, pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus melestarikan warisan budaya itu sendiri. “Ini menjadi tantangan kita untuk menjadikan warisan budaya nenek moyang kita ini tetap ada,” katanya.

Upaya yang dilakukan negara dan pemerintah daerah katanya, bisa mengadakan fetival seni tradisi, terutama yang sudah terdaftar di WBTB. Selain itu, hasil penggalian dan pengkajian yang dilakukan sudah diperbanyak dalam bentuk buku dan disebarkan ke tiap daerah. “Kami mengajak Pemerintah Provinsi Jambi untuk membuat festival seni tradisi yang sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya tak Benda ini,” katanya.

Upaya lain yang dilakukan pihaknya, dengan mengadakan Belajar Bersama Maestro (BBM). Melibatkan siswa dan mahasiswa yang tertarik untuk belajar seni tradisi daerah. “Dengan demikian, wawasan dan pemahaman seni tradisi bisa disampaikan ke generasi muda,” ujarnya.

Terkait potensi seni tradisi Jambi untuk masuk menjadi Warisan Budaya Dunia diakui Toto sangat terbuka lebar. Namun, harus ditunjukkan dengan keseriusan dan kepedulian pemerintah daerah dalam melestarikan seni tradisi yang ada di Jambi. “Paling penting itu ada keseriusan dan kepedulian pemerintah daerah dan masyarakat dalam melestarikan kekayaan seni tradisi daerah,” kata Toto menegaskan. (M Ramond EPU)

Tulisan ini sudah dimuat independen.id, Minggu, 16 Juli 2017. Tulisan ini juga pemenang ketiga Asean Literary Festival tahun 2017 dengan tema "Keberagaman Gender dan Seksualitas".

Rabu, 06 September 2017 17:10

Orang Rimba, merupakan suku asli Jambi yang hingga kini masih hidup di pedalaman hutan. Mereka hidup secara berkelompok dihulu-hulu sungai di dalam hutan. Konsentrasi terbesar Orang Rimba di Jambi berada di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) yang secara geografis terletak antara 1020 30’ 00 - 1020 55’ 00 Bt dan 10 45’ 00 -20 00’ 00 LS, dengan jumlah 1.678 jiwa dan juga sebagian kecil ada di wilayah Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) sebanyak 450 jiwa.

KILAS JAMBI - Orang Rimba juga dapat ditemukan di hutan-hutan sekunder dan perkebunan kelapa sawit sepanjang jalur lintas Sumatera hingga ke batas Sumatera Selatan, dengan jumlah populasi 1772 jiwa. Terkait asal usul suku yang hingga kini masih tergolong kelompok marginal ini, dijumpai beberapa versi.

Sebagian Orang Rimba meyakini bahwa mereka berasal dari kerajaan Pagaruyung. Konon ceritanya sejumlah pasukan di utus raja Pagaruyung untuk melakukan perjalanan ke Jambi mengemban misi kerajaan, namun pasukan ini gagal menjalankan misinya. Tapi untuk kembali ke Pagaruyung mereka malu, sehingga memilih melarikan diri ke hutan. Dan kemudian berkembang membentuk kelompok-kelompok sendiri.

Versi lainnya menyebutkan Orang Rimba berasal dari sisa-sisa pasukan kerajaan Sriwijaya yang kalah berperang melawan belanda, dan kemudian melarikan diri ke hutan. Versi lainnya menyebutkan kelompok ini berasal dari buah gelumpang. Dari sekian banyak versi asal usul Orang Rimba, sulit untuk dibuktikan karena tidak ditemukan adanya bukti-bukti yang mengarah ke sana.

Menurut kajian antropologi KKI Warsi, Robert Aritonang, dari ketiga versi itu sulit yang bisa diklaim mendekati keberadaan asal usul Orang Rimba. Karena, jika mereka berasal dari Kerajaan Pagaruyung, ataupun Sriwijaya maka dalam kehidupan mereka seharusnya juga telah mengenal peradaban yang ada di masa itu, yang mungkin diturunkan kepada anak cucunya. Sebelumnya baca: Berburu dan Meramu Pangan untuk Bertahan.

Tidak mungkin dari kerajaan Pagaruyung ataupun Sriwijaya yang telah memiliki kebudayaan tertentu, seperti membuat rumah, bercocok tanam dan lainnya tidak ditemui di kehidupan Orang Rimba. Demikian juga dengan penggunaan bahasa, terdapat perbedaan dialek dan pelafalan huruf. Perubahan fonologi membutuhkan waktu yang sangat lama mencapai ratusan ribu tahun.

Dikatakan Robert, berkemungkinan besar Orang Rimba berasal dari suku Melayu Proto atau "Melayu Asli" adalah golongan Austronesia yang berasal dari Yunnan. Kelompok pertama dikenal sebagai Melayu Proto berpindah ke Asia Tenggara pada Zaman Batu Baru (2500 SM). “Suku melayu proto ini juga yang kemudian sampai di dataran Jambi,” katanya.

Mereka sudah mengalami suatu proses perubahan sosial beribu tahun dan kebanyakan terisolasi di dalam hutan. Ketika budaya baru seperti Hindu, Budha, terakhir Islam masuk dan memengaruhi budaya masyarakat lainnya, kelompok Orang Rimba yang berada di hutan tidak tersentuh sama sekali. Sehingga mereka tidak mengalami transformasi perubahan sosial.

Orang Rimba Jambi mengambil gadung

Hingga kini budaya-budaya lain yang telah berkembang pesat dan memengaruhi kehidupan masyarakat Melayu lainnya, Orang Rimba malah justru sebaliknya. Mereka masih berpegang teguh dengan kebiasaan dan budaya yang diwarisi dari leluhur. Hidup secara nomaden dengan mengandalkan kehidupan dari berburu dan meramu. "Kehidupan seperti ini masih bertahan hingga sekarang," kata Robert.

Bagi Orang Rimba, hutan memiliki multi fungsi untuk menunjang kehidupan mereka. Hutan merupakan rumah tempat mereka tinggal, yang menyediakan sumber makanan dan yang menjadi medium penghubung Orang Rimba dengan para dewa yang diyakini Orang Rimba. Menurut pepatah Orang Rimba; ada rimba ada bunga, ada bunga ada dewa.

Tak heran Orang Rimba memerlukan beragam bunga untuk ritual keagamaan. Mereka percaya tanpa bunga tidak bisa terhubung dengan para dewa yang mengatur kehidupan.

Hubungan erat Orang Rimba dengan hutan juga ditandai dengan perlambangan setiap individu Orang Rimba dengan pohon yang ada di dalam hutan, yaitu pohon Tenggeris dan Setubung. Pohon Tenggeris merupakan pohon tempat Orang Rimba menanam ari-ari anak yang baru lahir. Sedangkan Setubung merupakan kayu yang ketika anak lahir diambil sedikit kulitnya dan diusapkan ke dahi si anak. Kedua pohon ini menjadi perlambang bagi anak yang baru lahir.

Menurut Adat Orang Rimba, jika pohon yang telah ada ‘perlambangan’ ini dihilangkan sama artinya dengan menghilangkan nyawa Orang Rimba. Penghilangan nyawa orang merupakan pelanggaran adat besar, disebut hukum bangun (ganti nyawa) merupakan kompensasi atas hilangnya nyawa orang lain yang dendanya sebesar 500 lembar kain (merupakan nilai tertinggi untuk denda yang berlaku di komunitas Orang Rimba).

"Besarnya nilai denda ini, Orang Rimba sangat takut menghilangkan nyawa orang lain ataupun pohon yang menjadi perlambang hidup seseorang," kata Robert.

Pohon lainnya yang juga sangat dihargai Orang Rimba adalah pohon Sialang. Dari segi ekonomi pohon sialang sangat tinggi nilainya, karena penghasil madu yang menjadi sumber pendapatan Orang Rimba. Penghilangan pohon Sialang juga akan dikenai denda adat yang beragam, tergantung dengan jenis pohonnya.

Untuk pohon Sialang Kedondong denda yang dikenakan kepada pihak yang menebangnya adalah 500 lembar kain (setara dengan nyawa orang). Sedangkan pohon Sialang lainnya jenis pari, muara keluang, dan pulai, nilainya disesuaikan. Ada senilai 20 lembar kain atau sesuai dengan kesepakatan Orang Rimba melalui sidang adat.

Proteksi terhadap tetumbuhan yang ada di rimba ini ditandai juga dengan adanya proteksi kawasan. Orang Rimba dalam kehidupan mereka membagi kawasan hutan menjadi beberapa zona berdasarkan fungsi, nilai adat dan keruangan Orang Rimba. Ada kawasan yang disebut sebagai hutan larangan, yang dinamani dengan Setali Bukit. Di kawasan ini ditemukan inumon yaitu kawasan berupa sumber mata air di puncak-puncak bukit yang diyakini sebagai tempat tinggalnya para dewa-dewa dan setan. Orang Rimba tidak mau masuk ke dalam kawasan ini.

Kawasan hutan lainnya yang dijaga orang rimba adalah sejenis hutan adat, berupa muaron (kebun buah), tanoh peranoan (tanah kelahiran), pohon sialang (pohon madu), tenggiris dan sentubung serta pasaron (kuburan). Kawasan ini bernilai adat yang sangat tinggi bagi Orang Rimba. Untuk tempat tinggal dan berkebun Orang Rimba memanfaatkan hutan dilaur hutan larangan dan hutan adat yang juga dimanfaatkan secara bijak dan arif.

Tak hanya pohon-pohon di rimba yang dilindungi Orang Rimba secara adat, namun juga satwa-satwa tertentu. Meski menggantungkan hidup dari berburu Orang Rimba tidak akan memburu atau membunuh binatang yang dianggap sakral karena terkait dengan dewa-dewa mereka. Binatang yang tidak boleh diburu adalah harimau, gajah, siamang, tapir, burung selelayat, burung binti, burung rangkong kecil. "Satwa yang hampir punah ini, bagi orang rimba merupakan jelmaan dewa-dewa mereka, sedangkan burung adalah pengantar kabar ke dewa," ujarnya.

Meski tingkat pendidikan Orang Rimba rata-rata rendah, kearifan lokal menjaga hutan ini bertahan karena hutan adalah kehidupan bagi mereka. Berdasarkan data Warsi, pendidikan formal sudah menjangkau tujuh Temenggung di dalam TNBD. Jumlah bebas buta huruf 450 mencapai orang. Sebanyak 23 orang telah mengikuti pendidikan sekolah dasar di TNBD dan 44 orang di jalan lintas. Sedangkan tujuh orang mengikuti pendidikan SMP di TNBD dan empat orang di jalan lintas.

Delapan orang mengikuti pendidikan SMA dan satu Orang Rimba pernah mengikuti pendidikan di perguruang tinggi. "Satu orang juga pernah mendatar di Polri namun gagal di tes akademik," kata Robert. (M Ramond EPU)

Tulisan ini sudah dimuat independen.id, Senin, 15 Mei 2017. Tulisan ini nominasi penghargaan karya jurnalistik dengan tema Keadilan Pangan yang diadakan Oxfam dan Aliansi Jurnalis Independen tahun 2017.

Rabu, 06 September 2017 16:45

Hari sudah petang, Tumenggung Ngilo harus meninggalkan kebun karetnya sebelum gelap. Mengendarai sepeda motor, Ngilo menyusur jalan setapak ditumbuhi belukar menuju kediaman bersama puluhan Orang Rimba di Pemenang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. “Kalau sedang tidak berburu, saya nyadap karet di kebun,” kata Ngilo kepada koresponden Independen ketika ditemui di kediamannya, Jumat, (12/4).

KILAS JAMBI - Berburu merupakan kegiatan rutin yang dilakukan Orang Rimba untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Babi sasaran utama saat berburu. Kalau nasib baik, kancil dan rusa jadi berkah hasil buruan yang bisa mereka santap. “Sekarang ini sudah susah untuk dapat kancil dan rusa. Paling sering itu dapat babi,” jelasnya.

Butuh waktu dua hingga tiga malam di dalam hutan untuk Ngilo bersama kelompoknya berburu. Mengandalkan kecepek, senjata yang mereka rakit sendiri, buruan jarang meleset dari bidikan. Kemampuan berburu dan merakit senjata ini sudah didapatkan Ngilo dan Orang Rimba secara turun temurun. “Kalau tidak berburu, tidak makan,” ungkapnya.

Saat hasil buruan babi dapat lebih dari tiga ekor, Ngilo menjualnya. Uang hasil penjualan binatang itu mereka gunakan untuk membeli beras. Kalau tidak dapat buruan sama sekali, mereka pun mencari ubi untuk dimakan.

Diakui Ngilo, kebutuhan pangan kelompoknya, saat ini, semakin sulit. Karena tidak bisa mengandalkan hasil buruan saja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada kalanya mereka harus mengumpulkan berondolan sawit di kebun warga untuk dijual. Kadang memungut buah pinang yang jatuh berserakan di kebun warga.

Hasil memungut berondolan sawit dan pinang ini mereka jual per kilo Rp7 ribu. Rata-rata mereka bisa menjual sampai 10 kilogram. Sedangkan untuk kebun karet, Orang Rimba di bawah kepemimpinannya harus bergantian mengolahnya. Karena, mereka harus berbagi dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Pernah beras satu kilo harus dibagi-bagi. Kami utamakan beri makan anak kecil,” katanya.

Kondisi seperti ini harus mereka lalui setiap hari. Tak heran, penyakit mudah menyerang karena asupan makanan yang kurang. Diagnosisnya petugas penyakitnya maag. “Mungkin karena jarang makan,” ungkapnya.

Ngilo berharap pemerintah peka terhadap kondisi mereka. Ia tidak melupakan bantuan tempat tinggal kepada beberapa kelompok Orang Rimba. Namun, menurutnya, kebutuhan lahan untuk berkebun jauh lebih penting. Karena kebanyakan bantuan rumah dari pemerintah juga tidak digunakan kebanyakan Orang Rimba di Jambi.

Tidak jauh berbeda dengan kelompok Tumenggung Ngilo, kelompok Orang Rimba di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi juga mengalami hal serupa. Mereka masih harus keluar masuk hutan untuk mencari makanan dan berjalan hingga delapan kilo meter menuju kebun mengambil makanan.

“Tempat tinggal yang disediakan pemerintah jauh dari lahan pangan,” kata Njalo, Orang Rimba di bawah kepemimpinan Tumenggung Grip.

Persoalan lainnya, di dalam Taman Nasional Bukit Duabelas sudah semakin sempit untuk kehidupan Orang Rimba Jambi. Akibatnya, hewan buruan juga semakin sulit didapatkan. Mencari jernang, getah karet dan damar menjadi pilihan yang harus mereka lakukan untuk mendapatkan uang membeli kebutuhan makan sehari-hari.

Nasib Njalo pun tak jauh beda dengan Ngilo. Jika tak mendapat hewan buruan, getah karet belum bisa dijual, damar dan jernang juga tidak ada, mereka terpaksa makan gadung, umbi-umbian yang mengandung racun, banyak tumbuh di hutan.

Meski beracun, diakuinya, Orang Rimba sangat mahir mengolah tanaman beracun ini. Dengan cara, Gadung dimasukan ke dalam karung, kemudian di rendam ke dalam sungai mengalir beberapa hari. Selanjutnya, Gadung dijemur dan diiris untuk direbus. “Kadang juga makan Benor dan Umbut (keduanya umbi-umbian di dalam hutan),” katanya.

Untuk berburu, diakui Njalo, mereka bisa melakukan dengan dua cara. Pertama, menggunakan Kecepek (menembak), kedua dengan memasang jerat. “Jerat kami buat dari kulit kayu. Dipasang di lintasan hewan buruan. Dibiarkan dua hari, biasanya ada Babi yang terjerat,” jelasnya.

Diakui Njalo, Orang Rimba tidak memakan binatang ternak. Hanya memakan binatang liar di dalam hutan. Ini sudah tertuang dalam adat Orang Rimba. “Kami tidak makan hewan ternak seperti Ayam, Kambing, Sapi, dan Bebek. Karena bagi kami, Ayam itu Kuwau di dalam hutan, Kambing itu Kijang, dan Sapi itu Rusa,” jelas Njalo.

Dengan adanya aturan adat ini, menjadikan Orang Rimba dengan orang desa tidak saling berebutan buruan binatang. Orang Rimba tidak akan mencari binatang ternak, dan orang desa tidak mencari binatang di dalam hutan. “Aturan ini juga menjadi perjanjian Orang Rimba dengan orang dusun,” katanya.

Sementara itu, Robert Aritonang, Manejer Program Konservasi dan Pemberdayaan KKI Warsi, menjelaskan bagaimana pola Orang Rimba Jambi dalam memenuhi kebutuhan pangan. Sejak 1997, dirinya melakukan penelitian terhadap kehidupan Orang Rimba, sudah terjadi berbagai perubahan pola pemenuhan kebutuhan pangan Orang Rimba.

Dikatakannya, kebiasaan Orang Rimba memenuhi kebutuhan pangan yaitu berburu, meramu dan bercocok tanam. Ketiga cara ini masih ada yang melakukan dan ada yang tidak. Karena, tidak semua Orang Rimba hidup di dalam Taman Nasional Bukit Duabelas. “Orang Rimba yang masih di dalam (hutan), masih berburu, meramu, dan bercocok tanam. Sedangkan yang tinggal di luar taman nasional sudah ada yang berkebun karet,” jelasnya.

Meski sudah ada yang berkebun karet, berbeda dengan petani karet lainnya. Selain kebun karet yang tidak luas, hasil karetnya dijual hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Seperti membeli gula, kopi, rokok dan ikan,” kata Robert.

Memakan Gadung, Benor dan Umbut, itu biasanya dilakukan Orang Rimba ketika memasuki masa Remayo (paceklik). “Biasanya Remayo itu terjadi ketika mereka sedang Belangun (mengembara meninggalkan suatu tempat karena ada kematian anggota kelompok),” ujarnya.

Selama perjalanan Belangun, Orang Rimba memakan Gadung, Benor dan Umbut. “Itu akan kelihatan di sepanjang perjalanan mereka. Ada bekas galian tanah mencari Gadung, Benor dan Umbut,” ungkapnya.

Memakan umbi-umbian hutan ini, kata Robert, merupakan cara Orang Rimba memenuhi kebutuhan karbohidrat. Sedangkan untuk protein, babi hasil buruan merupakan binatang paling sering dikonsumsi. Ada juga hewan sejenis kura-kura yang dikenal Orang Rimba dengan nama Si Bodo. “Kalau dapat sarang Si Bodo itu, mereka bisa mendapatkan sampai puluhan ekor,” katanya.

Sedangkan binatang yang paling gampang didapatkan untuk dikonsumsi Orang Rimba yaitu Katak dan Kelembuai (Keong). “Pola memenuhi kebutuhan pangan ini masih dilakukan Orang Rimba yang tinggal di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) atau di sekitarnya (kebun perusahaan dan warga, red),” jelas Robert.

Namun, kata Robert, Orang Rimba yang sudah tidak tinggal di dekat kawasan taman nasional jauh lebih sulit hidupnya dalam memenuhi kebutuhan pangan. Karena, mereka tinggal di kebun-kebun sawit atau karet yang tidak terdapat makanan yang biasanya lebih mudah didapatkan di dalam hutan.

“Seperti di Pamenang Bangko, tidak mungkin Orang Rimba di sana menemukan hutan. Hanya mengandalkan berburu babi. Kalau saat Remayo, mereka mengambil buah sawit yang jatuh untuk dijual. Bahkan, ada yang merebus buah sawit untuk dimakan,” ungkapnya.

Meski persoalan pangan Orang Rimba belum menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jambi. Ini terbukti tidak ada program pertanian dan ketahanan pangan mengarah khusus kepada Orang Rimba Jambi. “Kalau khusus untuk Orang Rimba Jambi dari provinsi tidak ada. Tapi kalau unuk program ketahanan pangan juga dilakukan di tiap kabupaten. Mungkin ada programnya di daerah,” kata Badrun Tamam, Plt Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Provinsi Jambi, Senin 15 Mei 2017.

Dikatakannya, program Pemerintah Provinsi Jambi mengarah kepada bantuan ke tiap desa. “Program untuk desa ini juga bagi Orang Rimba yang ada di desa-desa di Provinsi Jambi,” ujarnya.

Salah satu masalah program pertanian untuk Orang Rimba Jambi kata Rudi Syaf, Manejer Program dan Komunikasi KKI Warsi, yaitu ketersediaan lahan yang tidak memadai di sekitar Orang Rimba Jambi. “Salah satu solusi lahan pertanian untuk pangan Orang Rimba Jambi, yaitu areal di bawah pemegang izin hutan produksi mengalokasikan untuk Orang Rimba berdasarkan teritorial masing-masing,” katanya.

Kekurangan Pangan Berujung Kematian

land clearing perusahaan perkebunan

Persoalan Pangan yang berujung kematian Orang Rimba, sudah terjadi sejak tahun 1997. Kematian beruntun Orang Rimba sudah terjadi sejak tahun 1997. Terakhir di tahun 2015, puluhan Orang Rimba mati beruntun dalam tiga bulan.

Memang bukan karena tidak mendapatkan makanan, mereka langsung meninggal. Tapi karena asupan makanan yang kurang, mengakibatkan Orang Rimba gampang terserang penyakit. "Daya tahan tubuh mereka lemah, penyakit gampang menyerang,” kata Robert.

Ditambah lagi, tidak adanya fasilitas kesehatan terdekat. Anak-anak tidak pernah diimunisasi dan tingkat gizi rendah. Belum lagi land clearing alias menggunduli lahan, hanya tersisa hamparan tanah, yang dilakukan perusahaan perkebunan di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelasa adalah wilayah Orang Rimba hidup dan mencari makan.

Land clearing rata-rata mencapai 200 hektar perbulan yang dilakukan tiap perusahaan. "Jangankan manusia, binatang saja tidak bisa hidup di areal land clearing,” jelas Robert.

Kondisi seperti ini kata Robert semakin memperparah kondisi Orang Rimba ketika sedang Belangun. Sulit menemukan makanan. Sehingga kekurangan asupan makanan/gizi dan daya tahan tubuh menjadi lemah dan gampang terserang penyakit.

Dari data KKI Warsi, sedikitnya 10 perusahaan hutan tanaman industri (HTI) berada di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Total keseluruhan areal HTI 318.648 hektar.

Menurut Robert, untuk jangka panjang, jaminan perlindungan hak Orang Rimba atas kawasan hidup termasuk lahan dan sumber daya di dalamnya harus dilakukan negara. Perlindungan ini terutama yang berada atau tumpang tindih izin konsesi HTI dan HGU perkebunan.

Bagi perusahaan yang sudah terlanjur melakukan okupasi terhadap kawasan hidup Orang Rimba, Robert mengatakan pemerintah harus turun tangan memastikan hak Orang Rimba mendapat kompensasi dari perusahaan. Kompensasi yang dimaksud tak lain jaminan kehidupan jangka panjang dari perusahaan. Berupa lahan atau kebun, atau bagi hasil keuntungan perusahaan.

Karena hutang perusahaan kepada Orang Rimba berbeda maknanya dengan tanggung jawab sosial. Robert mengatakan upaya mendapatkan kembali hak Orang Rimba di tanah leluhur yang sudah dikuasai perusahaan perlu didorong berbagai pihak seperti LSM, Komnas HAM, media dan akademisi. "Perlu tindakan darurat untuk Orang Rimba mengalami malnutrisi dan sakit," katanya.

Tidak hanya menyediaan makanan, penambahan gizi, pemberian inmunisasi, terobosan administrasi untuk layanan kesehatan juga perlu segera dilakukan. Robert mencontohkan puskesmas mobile untuk Orang Rimba dengan sumber daya pendukungnya, dapat menjadi salah satu tindakan segera untuk menjangkau layanan ke mereka.

Akhir 2015, Lembaga Eijkman mengeluarkan data hasil penelitian kerentanan terhadap penyakit pada Orang Rimba Jambi. Penelitian dilakukan terhadap penyakit seperti malaria dan hepatitis. 583 Orang Rimba diperiksa dalam penelitian ini.

Hasilnya, prevalensi Hepatitis B Antigen Orang Rimba menunjukkan hiperendemisitas. Pada populasi dewasa 33,9 persen (hiperendemik). Prevalensi ini tinggi di semua kelompok usia 17-55 tahun (usia produktif). Tertinggi pada rentang usia 36-40 tahun, dan menurun pada usia > 55 tahun. Tidak jauh berbeda dengan penderita Malaria.

Mengatasi persoalan kesehatan Orang Rimba Jambi, Dinas Kesehatan Provinsi Jambi mengatasinya dengan program pelayanan kesehatan bergerak di daerah terpencil. Kegiatan ini dilakukan di lima lokasi berbeda dalam satu tahun.

Fitri Balgis, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jambi mengatakan petugas telah melakukan pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada Orang Rimba. Termasuk sosialisasi bagimana pola hidup bersih dan sehat. “Seperti sosialisasi kesehatan terhadap ibu dan anak,” katanya, Senin (15/5).

Ia mengatakan setelah beberapa kali pertemuan dengan Orang Rimba Jambi, perilaku hidup tidak sehat masih sering ditemukan. Karena, Orang Rimba Jambi hidup berpindah-pindah dan tinggal di pondok-pondok. “Penyakit kulit, flu dan kutu rambut sering kami temui,” katanya.

Kematian beruntun yang menimpa Orang Rimba Jambi menurutnya hubungan dengan ketersediaan pangan. Akibatnya persoalan gizi kurang sangat dominan. "Daya tahan tubuh kurang dan mudah terserang penyakit,” katanya menjelaskan. Bersambung Jejak Orang Rimba. (M Ramond EPU)

Tulisan ini sudah dimuat independen.id, Senin, 15 Mei 2017. Tulisan ini nominasi penghargaan karya jurnalistik dengan tema Keadilan Pangan yang diadakan Oxfam dan Aliansi Jurnalis Independen tahun 2017.

Rabu, 16 Agustus 2017 14:25

KILAS JAMBI - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 Dewan perwakilan rakyat daerah Kabupaten bungo menggelar rapat paripurna istimewa, Rabu 16 Agustus 2017.

Acara digelar di Gedung DPRD kabupaten Bungo, dipimpin langsung ketua DPRD kabupaten Bungo, Riya Mayang Sari. Ketua dan anggota DPRD Bungo Bersama Bupati, Wakil Bupati serta unsur Forkompinda Kabupaten Bungo bersama mendengar pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, melalui Televisi Nasional di ruang paripurna DPRD Bungo.

Ketua DPRD Bungo, Ria Mayang Sari saat memimpin sidang, meminta kepada seluruh anggota Dewan serta tamu undangan bersama-sama menyimak seksama sambutan yang disampaikan presiden Republik Indonesia.

“Mari kita simak seksama, sambutan kenegaraan presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo," kata Ketua DPRD Bungo ini.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 9.30 WIB hingga pukul 12.00 WIB, selain dihadiri ketua, Wakil ketua dan anggota DPRD Bungo, sidang mendegar pidato presiden turut dihadiri Bupati, Wakil Bupati, Sekda serta Unsur Forkompinda, dan seluruh tamu undangan lainnya.

Paripurna dihadiri Bupati Bungo, H Mashuri, Wakil Bupati Bungo, Kapolres Bungo AKBP Budiman Bostang Panjaitan, Anggota DPRD Bungo, Forkopimda Bungo, Ketua Pengadilan Negri Bungo, Ketua Pengadilan Agama Bungo, OPD Bungo, OKP, dan 300 orang tamu undangan.

Usai pembukaan rapat dilanjutkan dengan mendengarkan pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia melalui televisi memperingati HUT RI ke-72 dan Penyampaian Pengantar atau Keterangan Pemerintah Atas RUU Tentang APBN Tahun Anggaran 2018 Beserta Nota Keuanganya. Pidato Jokowi didengarkan selain di Bungo juga serentak se-Indonesia.

“Kita adalah bangsa petarung yang berani berjuang dengan melakukan kekuatan sendiri meraih kemerdekaan. Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para pahlawan kita, ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan pejuang dari seluruh pelosok Nusantara,” kata Jokowi.

Presiden menyampaikan semua itu harus membuat semakin bangga pada Indonesia, negeri yang cintai bersama. "Semua itu, harus membuat kita percaya diri untuk menghadapi masa depan. Kita harus meninggalkan warisan kolonialisme, yang menjadikan bangsa kita bermental budak, karakter rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam melihat hari esok,” katanya.

Jokowi mengatakan harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat sesama anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling memfitnah. “Karena kita adalah bersaudara, saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air,” katanya. (adv)

Rabu, 02 Agustus 2017 11:55

KILAS JAMBI - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bungo menggelar rapat Paripurna dalam rangka Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah (Renperda) inisiatif, Selasa 1 Agustus 2017. Sebagai tahapan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 18 tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD.

Rapat digelar pukul 09.00 WIB, dihadiri hampir seluruh anggota DPRD Bungo, Sekretaris Daerah Bungo, H Ridwan Is, Kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) dan seluruh Camat di Kabupaten Bungo.

Rapat paripurna dipimpin langsung Wakil Ketua DPRD Bungo, Syarkoni Syam dan didampingi H Kamal. Rapat paripurna membahas Ranperda Inisiatif. Namun belum tuntas dibahas, dan akan kembali digelar pada pekan depan dengan pembahasan yang sama.

Pimpinan DPRD Bungo, Syarkoni Syam menegaskan, Paripurna digelar merupakan tahapan PP Nomor 18 Tahun 2017. Hasil rapat paripurna ini akan dijadikan acuan untuk pelaksanaan PP Nomor 18 Tahun 2017 nantinya.

"Rapat kali ini bertujuan untuk menindaklanjuti keluarnya PP Nomor 18 Tahun 2017, tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan anggota DPRD. Hasilnya nanti akan dijadikan sebagai acuan untuk pelaksanaan PP," kata Syarkoni.

Ridwan Is, Sekretaris Daerah Bungo mengatakan, Ranperda akan dikaji pemerintah kabupaten. “Kalau sudah dari pusat, pasti sudah dipertimbangkan dengan matang,” kata Ridwan Is.

Pemerintah Kabupaten Bungo kata Ridwan mendukung keputusan pemerintah pusat dan kabupaten. (adv)

Rabu, 14 Juni 2017 06:47

KILAS JAMBI - Pihak Kepolisian terus melakukan pengejaran terhadap narapidana Lapas Klas IIA Jambi yang berhasil melarikan diri, Rabu 13 Juni 2017. Sejumlah narapidana kabur memanfaatkan dinding Lapas yang jebol akibat diterjang banjir.

Pantauan di lapangan, tiga unit perahu karet didatangkan ke Lapas Klas IIA Jambi untuk mencari napi yang kabur. Perahu karet tersebut masing-masing milik Direktorat Sabhara Polda Jambi, Satbrimob Polda Jambi, dan Polair Polda Jambi.

Ketiga perahu karet tersebut tiba di Lapas Klas IIA Jambi pukul 04.00 WIB. Dua unit dibawa ke belakang Lapas melalui Lorong Ibrahim, dan satu unit lainnya disiagakan di depan Lapas.

Sejauh ini, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait jumlah pasti napi yang kabur. Namun beberapa orang diantaranya telah berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian. (Ramond)

Rabu, 14 Juni 2017 06:44

KILAS JAMBI - Gubernur Jambi, Zumi Zola langsung meninjau kondisi Lapas Klas IIA Jambi yang jebol akibat banjir, Rabu dini hari 14 Juni 2017. Seharusnya, pagi ini Zola akan menghadiri sahur bersama istri Mantan Presiden RI, Gus Dur, namun langsung dibatalkan untuk meninjau Lapas Jambi.

Dikatakan Zola, sejauh ini sejumlah napi sudah dievakuasi. Sisanya akan dievakuasi lanjutan, baik ke Lapas Muarasabak atau Muarabulian. "Kita akan bantu prosesnya," kata Zola.

Saat ini, menurut Zola, yang terpenting adalah pengamanan Lapas. Dirinya sudah berkoordinasi dengan kepolisian dan TNI untuk pengamanan lokasi. Nantinya akan dibangun dinding sementara oleh kepolisian dan TNI. Selanjutnya dibangun permanen secara bertahap. "Katanya tadi butuh Rp200 juta. Kita akan bantu, nanti kita talangi dananya," janji Zola.

Tidak hanya Gubernur Jambi, Walikota Jambi, Sy Fasha yang hadir di Lapas juga menjanjikan bantuan evakuasi narapidana. Fasha siap membantu proses evakuasi dengan memberikan bantuan berupa dua unit truk. “Ini untuk membantu proses pemindahan,” katanya.

Untuk teknis pemindahan ke Lapas Muarabulian dan Muarasabak, Fasha menyerahkan pada Lapas Klas IIA Jambi.

Kepada masyarakat Kota Jambi, Sy Fasha menghimbau agar tidak panik. "Warga tidak perlu panik. Saat ini aparat kepolisian sedang memburu narapidana yang melarikan diri. Mudah-mudahan bisa segera diamankan," jelasnya. (Ramond)

Halaman 1 dari 259